Semarang, Jumat, (13/2/2026); Belajar Memadamkan kebakaran dan pengetahuan pengendalian api merupakan ilmu teknis dan keterampilan yang didasari oleh ketenangan menghadapi bencana. Pengetahuan dan keterampilan tersebut akan dibawa sampai dewasa, dan tidak akan terlupakan, bahkan sampai tua. Mengapa keterampilan dan pengetahuan tentang menghadapi kebakaran tersebut menjadi penting?

Petugas dari Dinas Kebakaran Kota Semarang; Bapak Agus Supriyanto menjelaskan; “kalau kita kehilangan barang, berupa televisi diambil orang; Yang hilang hanya televisi saja. Tetapi kalau kita mengalami kebakaran rumah atau kantor, asrama misalnya; Maka yang hilang tidak hanya rumah atau kantor, atau asrama saja; Tetapi yang hilang adalah semua barang, dan dokumen serta gedungnya; bahkan kadang juga jiwa orang yang ada di tempat tersebut yang tidak sempat diselamatkan!”

Serius Pak Agus menyampaikan informasi dan pengertian tersebut di depan; 84 siswa Asrama Amor Putra dan Putri serta pamong pendamping di ruang makan yang berdampingan dengan dapur Asrama Amor Putra Yayasan Binterbusih, Jalan Pilangsari No.1 RT.01-RW.05 Kelurahan Mangunharjo Kec. Tembalang Semarang.
Pada sesi tanya jawab; Veronika Viola Kotouki siswa SMA Masehi 2 PSAK Semarang menanyakan; Apakah yang paling sulit dialami oleh Damkar ketika menjalankan tugas? Pak Agus menjawab, meskipun kita siap siaga setiap saat dan seluruh armada disiapkan beserta peralatannya. Tetapi ketika terjadi kebakaran yang paling sulit dihadapi adalah “ketersediaan air air yang jauh dari lokasi kebakaran.
Pak Agus menjelaskan tangki mobil pemadam hanya menampung 5.000 liter air, dan ketika terjadi kebakaran beberapa unit sudah menjalankan tugas, ketika air habis harus segera diisi dan mencari sumber air terdekat. Selain itu adalah kebakaran gedung bertingkat, kalau gedung tersebut melebihi 32 meter tingginya, maka Damkar belum bisa melayani. Oleh sebab itu gedung-gedung bertingkat yang ada di Kota Semarang; sebagian sudah memiliki deteksi dan penanggulangan kebakaran sendiri.
Kegiatan rutin tahunan berupa “Sosialisasi Menanggulangi Bahaya Kebakaran dari Dinas Kebakaran Kota Semarang” sudah dianggendakan dan menjadi program Timja Pelajar Yayasan Binterbusih. Kegiatan tersebut selain mengedukasi siswa juga mengedukasi para Pamong Pendamping dan Staf Kantor Yayasan Binterbusih; Mengingat bahaya kebakaran bisa terjadi kapan dan dimana saja.
Lebih jauh dijelaskan bagaimana sifat api dan Tiga Unsur Pembentuk Api :

1. Panas (Heat) Panas adalah energi awal yang memicu bahan bakar untuk mencapai titik nyalanya.
Sumber panas bisa bermacam-macam: api terbuka, percikan listrik, gesekan, atau bahkan reaksi kimia. Misalnya, dalam kebakaran rumah, sering kali pemicunya berasal dari kompor gas atau konsleting listrik.
2. Bahan Bakar (Fuel) Ini adalah materi yang bisa terbakar. Contoh umum: kayu, bensin, kertas, plastik, atau minyak goreng. Setiap jenis bahan bakar punya karakteristik sendiri, misalnya titik nyala dan kecepatan pembakaran, yang mempengaruhi seberapa cepat api menyebar.
3. Oksigen (O₂) Oksigen adalah zat yang membantu reaksi pembakaran. Di udara, konsentrasi oksigen sekitar 21%, cukup untuk membuat api menyala dan terus menyala.
Itulah mengapa kebakaran bisa terus berlangsung di ruangan terbuka, atau bisa dihentikan di ruang kedap udara.
Ilustrasi segitiga api:
Bayangkan sebuah segitiga dengan masing-masing sisi mewakili Panas, Bahan Bakar, dan Oksigen. Hapus satu sisi saja, maka segitiga runtuh dan api pun padam.

Untuk membuktikan menghapus salah satu sisi dari segitiga api; maka beberapa siswa dilatih untuk mempraktekan teori tersebut dengan cara : “Menutup Slang Gas yang memancarkan aliran gas dan Ujung slang dinyalakan, kemudian ditekan dengan ibu jari” Ternyata api pancaran dari Slang Gas Kompor tersebut mati.!
Bp. Agus beserta tim pemadam menjelaskan juga bagaimana mengkondisikan dan menentukan titik kumpul bagi orang yang gedungnya mengalami kebakaran; selain mendata nama dan mencari orang yang belum ada dititik kumpul, berarti orang tersebut kemungkinan masih terjebak atau masih ada di dalam gedung; tersebut.
Titik kumpul selain mendata berdasarkan penghuni gedung; juga harus ditempatkan tim kesehatan yang merawat korban, selain itu juga diajarkan bagaimana menyelamatkan korban dengan menggendong oleh dua orang siswa yang mempraktekan mengevakuasi.
Sosialisasi dan pelatihan tersebut mendapatkan apresiasi dari siswa selain menyenangkan berpraktek juga mendapatkan pengetahuan baru yang bisa langsung dipraktekan juga pemadaman api menggunakan karung basah dan Alat Pemadam Kebakaran Ringan (APAR). ***jhe Saksono002
