Semarang, (Sabtu, 14 Maret 2026), Menitik beratkan pada kualitas pendidikan dan keterampilan bagi siswa SMA-SMK Kelas X, XI & XII siswa Asrama Amor Binterbusih untuk berani mengambil keputusan-keputusan yang tepat dan kuat adalah mutlak.

Semua itu merupakan bagian dari penekanan yang disampaikan oleh Bp. Paul untuk menjadi pemimpin besar masa depan Papua, ketika memberikan pengantar mengawali kegiatan ibadah pembukaan pada kegiatan Pendampingan Studi Pelajar Asrama Amor, dengan tema “MENJADI TUAN ATAU PENGEMIS DI NEGERI SENDIRI” bagi Peserta Program Beasiswa YPMAK Kerjasama Yayasan Binterbusih.

Aktivitas Timja Pelajar Yayasan Binterbusih yang setiap hari terlibat mendampingi para siswa baik di Asrama Putra maupun Asrama Putri sejak pagi hari mempersiapkan anak-anak untuk doa pagi, sarapan, berangkat sekolah, mengingatkan kelengkapan sekolah dan memastikan tidak salah seragam dan menghantar sampai di depan asrama menuju mobil jemputan serta berkomunikasi dengan pihak sekolah untuk keperluan pembiayaan dan tugas-tugas yang harus dipenuhi secara administratif.

Ketika anak-anak pulang memastikan dengan keadaan baik, telah makan siang yang dikirim ke sekolah, istirahat, mandi, makan malam dan mempersiapkan belajar malam bersama para guru sekolah pendamping. Hingga malam tiba diakhiri dengan pengumpulan HP dan ibadah malam lanjut istirahat malam. Petuah dan nasehat diberikan setiap saat oleh para Pamong Pendamping agar sikap dan perilaku di asrama baik dan terukur.

Untuk mengevaluasi dan mengurai sikap hidup di Asrama kegiatan Pendampingan Studi, terprogram dalam setiap trimester maupun semester.  Bertempat di di Rumah Retret Griya Paseban jalan Dr. Ismangil No. 18A, Bongsari, Semarang Barat 50148, sebanyak 73 siswa kelas X, XI & XII dengan komposisi 30 siswa putri dan 43 siswa putra; Mereka sekolah di kota Studi Semarang; SMA PL. Don Bosko; SMA Masehi 2 PSAK; SMA Sint Louis; SMA Krista Mitra; SMA Nusa Putera dan SMK PL.Tarsicius.

Sementara untuk mendukung kegiatan tersebut sebanyak 10 Pamong dan staf administrasi dan keuangan ikut ambil bagian dalam proses pendampingan studi tersebut; Tugas pendamping selain menertibkan peserta, memastikan presensi kehadiran, mendampingi diskusi kelompok juga menjadi orang tua kedua untuk mendiskusikan hal yang bersifat pribadi.

Kegiatan yang diawali dengan Ibadah Pembukaan yang dipimpin oleh Bp. Paul Sudiyo dengan bacaan kitab suci Injil  Daniel 1 : 1 – 16 & Daniel 3 : 16-21-27; dalam injil tersebut diceritakan 4 orang pemuda yang kuat; Homili dan renungan yang disampaikan beliau adalah bagaimana kita mengambil keputusan-keputusan yang tepat agar perjalanan studi berhasil seperti yang dilakukan oleh 4 pemuda tersebut.

Pada perenungan Bp. Paul memberikan informasi dan ilustrasi nyata yang terjadi di Timika; “Setiap hari kita kebanjiran, tidak kebanjiran air seperti di Sumatra tetapi kita kebanjiran orang di Timika; Mengapa kebanjiran orang di Timika, karena Timika adalah madu bagi banyak orang, di Timika banyak pekerjaan dan harapan untuk hidup baik. Kalian akan bersaing dengan mereka yang datang; Oleh sebab itu kita harus kuat untuk melawan dan bertahan serta bersaing dengan orang yang datang dari luar”.

Asrama adalah tempat untuk membangun kekuatan yang besar, agar kita bisa menjadi Tuan di Timika dan di Papua; Bukan sebaliknya kita akan menjadi Pengemis. Kita tidak boleh gagal sekolah dan gagal kuliah; Seperti 4 pemuda yang ada di Bacaan Injil itu. Kalau kalian menentang aturan Asrama, tidak kumpul HP, Jalan Malam, dan Tidak Belajar Malam dan lain-lain dan tidak tertib dan tidak teratur maka jurusan kalian adalah menjadi pengemis! Tegas beliau.

Selama 2 hari Sabtu-Minggu, 14-15 Maret 2026 para siswa akan merefleksikan perjalanan hidup dan memperbaiki keputusan yang salah yang telah diambil berupa tindakan dan perilaku kurang terpuji : Berupa bergadang dan jalan malam (tidak tidur tepat waktu), Main HP (cari wifi) secara berlebih : live tik tok, game; Tidak sekolah, tidak belajar, tidak mengerjakan tugas (alfa/sakit) hanya sebagai alasan; pagi sakit, siang-sore sehat, Pacaran tidak pada waktu dan tempat yang benar (kebanyakan anak berpacaran secara berlebih dan tidak sehat), Tidak tekun mengikuti kegiatan kerohanian (berdoa, bina iman, ke gereja), Kepedulian (menjaga kebersihan, kerja bakti/piket asrama, Kepengurusan asrama yang berjalan kurang aktif. Tetapi itu semua tidak terjadi dan dilakukan oleh semua siswa, masih banyak yang tidak melakukan hal tersebut.

Untuk memastikan ada perubahan perilaku di Asrama baik putra maupun putri peserta diminta untuk merefleksikan melalui diskusi kelompok; Adapun topik diskusi mengacu pada persoalan ketidaktertiban dalam memenuhi kewajiban yang ada di raport asrama.

Dalam diskusi yang terbagi beberapa kelompok masing-masing asrama baik putra dan putri ditemukan beberapa kelemahan yang mengarah pada one prestasi dan tergiur untuk melakukan tindakan tersebut; bolos sekolah alasan sakit, tidak kumpul hp dan lain sebagainya; Sehingga beberapa raport asrama tidak memenuhi standart  yang ditetapkan yaitu 85% untuk semua kehadiran kegiataan. Untuk Asrama Putri hadir sekolah tertinggi 100% ada 4 siswi dan sisanya kisaran 83-98 %, dan 77% 3 anak; sedangkan untuk aktivitas Bina Iman dari 30 anak 88% ada 4 anak sisanya 100%; Sedangkan aktivitas yang lain prosentasenya relatif variatif.

Dolfinus SJ. Kamesras Katimja Pembinaan melihat fenomena itu menyampaikan bahwa pemahaman tentang anak-anak yang mudah tergoda dengan sikap santai, dikarenakan metode 8K yang diajarkan belum dipahami dengan baik; Sedangkan berkomitmen pada aktivitas di Asrama merupakan proses pembentukan karakter bagi siswa.

Timja Pelajar & Timja Pembinaan akan selalu berkoordinasi dan mengawal proses perbaikan sikap anak-anak di Asrama, agar implementasi metode 8K (Komitmen, Karakter, Kompetensi Akademik, Keterampilan hidup-AC4, Kesehatan Jasmani, Kesehatan rohani, Kepemimpinan dan Keterampilan Teknis) bisa dipahami dan dilaksanakan oleh para siswa. Sebagai contoh implementasi dalam kehidupan berasrama 8K; Hadir ditengah-tengah anak-anak; Kaka Fitalia Tumuka, Mahasiswa Fakultas Hukum & Komunikasi SCU Semarang; Alumni Penghuni Asrama Putri Amor yang telah lulus dan akan diwisuda 11 April 2026.

Untuk meningkatkan semangat dan menguatkan logika spiritual pada siswa agar prosentase kehadiran meningkat diminta untuk menandatangani surat pernyataan bermaterai, bahwa ia akan mentaati aturan hidup di asrama dengan kesadaran penuh agar tidak terjerumus dalam lingkaran sikap yang akan mengarah pada pribadi yang berpotensi menjadi “Pengemis” dimasa datang. ***jhe saksono 002

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bahasa