YAYASAN BINTERBUSIH kembali diundang oleh Pengurus Yayasan Pendidikan Kamoro Bangkit (YPKB) untuk memberikan Pembekalan bagi Pengurus dan Staf YPKB. Pembekalan tahun lalu dilaksanakan pada tanggal 20 Februari 2025.

Agenda Pembekalan Pengurus tahun 2026 ini disepakati bersama antara para Pengurus YPKB  dan Yayasan BINTERBUSIH pada saat mereka selesai mengantar peserta baru di Semarang pada bulan Agustus lalu. Selain Pembekalan Pengurus, kegiatan akan diawali dengan rekoleksi yang dipimpin oleh Romo.

Pada tanggal 9 September 2026 di Hotel Horison Timika, setelah selang beberapa hari dari kegiatan Temu Alumni Binaan Yayasan BINTERBUSIH ke – 5, Rekoleksi dan Pembekalan Pengurus YPKB dilaksanakan. Hadir pada acara tersebut diataranya Ketua YPKB Thomas Too dan Sekretaris Rafael Taorekeyau.

Rekoleksi dipimpin oleh Romo Yohanes Haryoto, SCJ. Romo Haryoto menjalani tugas di Keuskupan Timika selama 3 tahun ini, sebelumnya bertugas di Sumatra. Romo Haryoto memberikan Rekoleksi bertema “MEMBANGUN KOMUNITAS KERJA ( Etos – Visi – Iman )”.

Mengawali rekoleksinya, Rm Haryoto memberikan ilustrasi tentang 4 orang dengan 4 profesi yang berbeda sedang menelusuri hutan belantara; ada ahli kehutanan, Insinyur Sipil, Pengusaha dan seorang Pertapa. Empat orang dengan latar belakang yang berbeda ini mempunyai cara pandang masing-masing dalam melihat hutan. Seorang ahli kehutanan berpandangan bahwa hutan merupakan paru-paru hidup, maka harus dijaga dan dilestarikan. Insinyur Sipil berpandangan bahwa kayu-kayu di hutan sudah tua, maka bisa ditebang dan disumbangkan sebagai pendapatan daerah. Pengusaha juga berpandangan lain, hutan ini bisa dijadikan sebagai hutan wisata, nanti bisa dibangun hotel yang indah di tengah hutan. Sementara seorang pertapa memiliki pandangan lain, dia bersujud dan berdoa : “Tuhan, Engkau sungguh agung dan mulia. CiptaanMu begitu mempesona hatiku apalagi Engkau Sang Pencipta. Sungguh mengagumkan !”.

Dari ilustrasi cerita di atas Romo menggambarkan sebuah organisasi pun akan terjadi demikian, orang yang ada di dalam organisasi akan mempunyai sikap dan cara pandang yang berbeda-beda. Mereka juga mempunyai kepentingan yang tidak sama. Bila mereka mengikuti kemauannya sendiri maka akan terjadi perkelaian dan pertentangan bahkan bisa terjadi saling bunuh atau paling tidak merendahkan atau meremehkan. Untuk itu Romo mengajak kita berpikir, Apa yang kiranya bisa mempersatukan mereka walaupun mereka mempunyai kepentingan yang berbeda ?

Beberapa point yang disampaikan Romo dalam mengajak kita merefleksikan diri untuk menjawab pertanyaan di atas  adalah melihat bagaimana kita memiliki Etos Kerja yang baik, baik dalam maksud memajukan dengan kasih, persaudaraan, tidak merugikan orang lain.

Memiliki Visi dan Misi, kita diharapkan memahami bersama Visi dan Misi sebuah Yayasan. Untuk memahami bersama Visi dan Misi memang tidak bisa langsung diharapkan dipahami dalam waktu jangka pendek, namun Visi dan Misi ini terus diharapkan menjadi motor penggerak dalam kita melayani.

Nilai kerja, kita diingatkan apa tujuan kita bekerja, apakah hanya sekedar mencari uang, atau kita kerja sebagai pelayan atau melayani sesama kita dengan ikhlas. Sebuah komitmen kerja akan tercipta harmonis bila keluhuran manusia tetap dihormati. Bekerja adalah sebuah pilihan dan putusan manusia “waras” yang berdasarkan kebebasannya, oleh karena itu bekerja itu melekat pada eksistensi manusia sehat yang hendak mengungkapkan nilai-nilai luhur manusia.

Setiap orang membutuhkan kesempatan untuk merealisasikan jati dirinya, membuktikan bahwa dirinya ada, mempunyai kemampuan dan berguna bagi orang lain. Pekerjaan menjadi medan dan sarana perwujudan diri sebagai subyek yang bebas, kreatif dan bertanggungjawab.

Setiap pekerjaan mempunyai nilai sosial. Tak seorang pun bisa memenuhi kebutuhannya sendiri, butuh kerjasama dan komunikasi.

Nilai Iman, manusia adalah citra atau gambar Allah. Prinsip yang berlaku adalah “The divine human partnership” yaitu prinsip menghargai kebebasan manusia dan mengangkat manusia sebagai partner Allah dalam mengelola alam semesta ini.

Rekoleksi ditutup dengan Perayaan Ekaristi dan Adorasi. Rekoleksi ini diharapkan untuk kembali memberi semangat dalam diri masing-masing Pengurus dan Staf YPKB untuk terus memberikan pelayanan yang lebih baik bagi adik-adik pelajar dan mahasiswa yang ada di Papua maupun di Jawa. **Martinus Widi.

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bahasa