Semarang, (Jumat, 29 Mei 2026); Yayasan Binterbusih kembali menyelenggarakan Training For Trainer (TfT) Batch 2 sebagai langkah strategis dalam meningkatkan kapasitas staf pelaksana program. Pelatihan ini bertujuan memperkuat kompetensi, kepemimpinan, serta kemampuan fasilitasi para peserta dalam mendukung pelaksanaan program yayasan secara profesional dan berdampak bagi pengembangan siswa danmahasiswa asal Papua.

Ch. Arie Sulistiono seorang profesional yang malang melintang di dunia Human Resource Development dan bergelar Doktor lingkungan lulusan SCU akan mendampingi dan membimbing peserta TfT dengan tujuan peserta mampu menggali potensi dirinya mengimplementasi program Yayasan Binterbusih dengan baik dan berkualitas.
Bertempat di Aula Griya Paseban Jl. Dokter Ismangil No. 18A, Bongsari, Kec. Semarang Barat 50148; Sebanyak 19 staf selama tiga hari mereka akan melakukan “kontrak belajar”; Guna memperkuat kualitas pelayanan dan implementasi program; Kegiatan ini menjadi momentum penting bagi yayasan untuk membangun SDM yang kompeten, adaptif, dan siap mendukung pengembangan generasi muda Papua.

Kepesertaan TfT kali ini diikuti Koordinator Kota Studi & Pamong Asrama Putra-Putri masing-masing : Petrus Pugiye, SIP.,M.Si; Wahyuhadi Kusuma W, SE; Maikel Nawaripi,SE., MM, Cand.Doktor; Daniel Kelanangame S.PWK., M.URP; Martinus Dwi S., SE; Ricardo Kemong, S.Sos.; Delia Ester Zonggonau, SIP.; Theodora Sally Desy, S. Farm.; Laurent Mayasari, S.Pd.; Christina Dyah Sri Rejeki, SE.; Johanes Pardji; Wini Almarit Bisararisi; Marcelina Cerling, S.Ak,; Simon Masnifi, S.Psi.; Petrus Rebo Moi, S.Psi.; Mario Kurniawan Broto, S.I.P.; Elpidius Wisnu Satriyo Nugroho. S.Pi.; Hesti Ari Respati, S.Kom.; Meylita Michelina Simamora, S.Sos.
Sekretaris Yayasan Binterbusih; Martinus Widi Cahyadi, SE menyampaikan bawah “para korwil dan pamong tersebut sudah lama bergelut dalam pendampingan siswa dan mahasiswa tetapi Yayasan Binterbusih memandang lebih dalam lagi untuk memberikan pelatihan sesuai dengan kebutuhan dan perkembangan jaman, hal ini disadari bahwa korwil dan pamong memiliki kekuatan untuk berinovasi yang bersumber dari rahmat Tuhan yang bekerja dalam kerapuhan”; Menurutnya “Tidak ada lubang yang terlalu dalam yang dapat menghentikan langkah perutusan mereka dalam mendampingi siswa dan mahasiswa”.
Dalam proses pelatihan tersebut peserta diminta untuk mendesain kegiatan dengan mengisi lembar Kerja Identifikasi Kebutuhan Training; Meliputi Identifikasi Masalah yang dialami; Kondisi yang diharapkan berubah; Nama Pelatihan yang dibutuhkan; Siapa saja sasaran pelatihan dan durasi Pelatihan. Ada beberapa kegiatan di Timja Pembinaan yang mutlak menjadi kurikulum sebagaimana tertuang dalam Rencana Kerja Timja Pelajar yang berjumlah 52 item dan 15 item kegiatan kelompok mahasiswa; Sehingga peserta dapat langsung mengeksekusi salah satu kegiatan untuk diusulkan pada pelatihan tersebut.
Pak Arie selaku mentor memberikan pengertan definisi atau batasan yang bisa dikategorikan sebagai “Kurikulum, Silabus maupun Modul”; Sebagai pelengkap untuk memulai kegiatan juga diperlukan TOR (Term of Reference) atau yang juga dikenal sebagai Kerangka Acuan Kerja (KAK) yang merinci kegiatan dari latar belakang sampai dengan pembiayaan dan kepanitiaan.

Meylita Michelina Simamora, S.Sos. Kepala Asrama SMP Ungaran menyampaikan “Pelatihan ini akan sangat berguna bagi kami sebagai Kepala Asrama Ungaran yang memiliki program-program yang ingin meningkatkan kompetensi anak anak SMP di asrama. Apalagi dalam waktu dekat ini asrama Ungaran akan mengadakan Pelatihan Pembekalan Pengurus Asrama yang baru saja terpilih untuk periode 20262027, dengan pelatihan TfT ini saya menjadi lebih fokus dalam merancang TOR, Kurikulum, Silabus , Modul dan Materi Ajar, sehingga memperlancar kegiatan saat hari H pelatihan tersebut.”
Senada dengan Meylita; Korwil Kota Studi Kota Semarang Ricardo Kemong, S.Sos menyampaikan “kegiatan ini menjadi jalan bagi kami para korwil, pamong dan terlebih khusus putra-putri asli Amungme dan Kamoro yang bekerja di Yayasan Binterbusih untuk menemukan potensi diri kami yang belum kami gali, dan lewat potensi itu kami berharap menjadi berkat untuk mahasiswa yang kami dampingi maupun masyarakat asli di tempat kami mengabdi nanti di tanah Papua, Pesannya!.”
Ketika berita ini diturunkan, pelatihan sedang berlangsung masuk sesi implementasi program; Peserta yang terbagi berkelompok wajib mempresentasikan hasil pelatihan dan mempraktekan dengan disertai Kerangka Acuan Kerja (TOR). ***@jhe saksono 002
