Semarang, (Sabtu, 27 Maret 2026), 87 mahasiswa Program Penerima Beasiswa YPMAK Mitra Yayasan Binterbusih menjalani program pendampingan studi Semester Genap 2025/2026 bertempat di Rumah Retret Griya Paseban jalan Dr. Ismangil No. 18A, Bongsari, Semarang Barat 50148; Menjadi pemimpin besar masa depan Papua merupakan sebuah perjalanan panjang yang penuh dengan penderitaan dan perjuangan besar, bertekad tidak boleh terputus di tengah jalan. Hal tersebut ditekankan oleh Bp. Paul Sudiyo dalam pengantar pembukaan ibadah kegiatan.

Pendampingan Studi bagi peserta Program Beasiswa YPMAK kerjasama dengan Yayasan Binterbusih mengambil tema “MENJADI TUAN ATAU PENGEMIS DI NEGERI SENDIRI”. Kegiatan yang berlangsung selama 2 hari Jumat-Sabtu, 27-28 Maret 2026 tersebut menitik beratkan pada proses refleksi dan evaluasi atas perjalanan studi mereka. Disadari bahwa kendala yang dialami oleh para mahasiswa dipetakan dalam bentuk evaluasi diri.

Kegiatan yang diawali dengan Ibadah Pembukaan yang dipimpin oleh Bp. Paul Sudiyo dengan Lagu pembukaan “hati yang gembira” dan bacaan kitab suci Injil  Daniel 1:1-16 menceritakan Daniel dan tiga temannya (Hananya, Misael, Azarya) yang dibuang ke Babel, namun mereka tetap setia menjaga kekudusan dengan menolak makanan raja yang haram. Mereka meminta sayur dan air selama 10 hari, dan terbukti lebih sehat daripada yang makan santapan raja, sehingga Allah memberikan mereka pengetahuan dan hikmat luar biasa.

Renungan yang disampaikan Bapak Paul menyampaikan “Kita Adalah Hasil Keputusan-Keputusan Hari Ini” gambaran bahwa ketaguhan hati dan kekudusan Allah; akan berpengaruh pada keputusan-keputusan yang tepat agar perjalanan studi berhasil seperti keteguhan hari Daniel dan 3 pemuda temannya tersebut. Kita sebagai anak muda juga harus belajar memiliki komitmen dan keteguhan hati dalam mengambil setiap keputusan-keputusan penting di dalam kehidupan kita, setiap keputusan yang diambil dari kehidupan ini merupakan langkah awal bagi masa depan setiap kita generasi penerus bangsa. Gambaran makanan Raja Babilon dicontohkan pada 6 pertanyaan refleksi.

Usai ibadah pembukaan sebanyak 6 butir pertanyaan refleksi menjadi bahan diskusi kelompok bagi para mahasiswa : 1. Sering Begadang; 2. Bermain HP berlebihan; 3. Tidak kuliah dan tidak belajar; 4. Tidak menyelesaikan tugas; 5. Melakukan Judi online; dan 6. Penggunaan biaya hidup secara boros. Pertanyaan refleksi tersebut untuk didiskusikan di kelompok dengan resiko dalam jangka pendek dan jangka panjang.

Peserta yang terbagi dalam 6 kelompok usai makan malam pk. 19.00 WIB mempresentasikan hasil diskusi dari masing-masing kelompok.

Kelompok 2 dalam presentasinya menyampaikan bahwa 6 pertanyaan refleksi tersebut kalau kita melakukannya berdampak merugikan diri kita sendiri; Salah satu akibatnya adalah akan mempersulit mendapatkan pekerjaan dan menghambat studi, dalam jangka panjang akan menjadi mahasiswa abadi, bahkan bisa gagal studi.

Anggota kelompok 2 Junianus Magal yang saat ini sedang studi di Fakultas Psikologi SCU Semarang memberikan ilustrasi; Ada seorang Filsuf yang terkenal dengan ajaran mengontrol diri adalah para filsuf dari aliran Stoikisme (Stoa), yang menekankan pentingnya mengendalikan emosi, pikiran, dan tindakan diri sendiri, serta menerima hal-hal di luar kendali; Oleh sebab itu berkaitan dengan pertanyaan refleksi tersebut, semua akan kembali pada pribadi masing-masing, kita harus mampu menelaah permasalah pribadi dan mencari serta menentukan solusi.

Kelompok-kelompok berikutnya menyoroti bahwa unsur status sebagai mahasiswa dan kedewasaan kerangka berpikir menjadi penting dan mengingat keenam pertanyaan refleksi tersebut akan menjadi pemicu bagi mahasiswa untuk tidak hanyut oleh perkembangan jaman dan ketidakmampuan mengontrol diri.  Oleh sebab itu tantangan kedepan adalah disiplin dan mengembangkan kerangka berpikir positif akan berpengaruh pada pengambilan keputusan terbaik bagi diri sendiri.

Sementara itu kesimpulan dari kelompok 3, kami menyampaikan bahwa dampak jangka pendek dari tidak kuliah dan tidak belajar serta tidak mengerjakan tugas maka akan sangat mempengaruhi faktor akademik yaitu kurangnya informasi terkait perkuliahan sehingga nilai IPK menurun. Kemudian, apabila hal tersebut menjadi kebiasaan maka akan berdampak bagi jangka panjang sehingga tidak dapat menyelesaikan studi tepat waktu.

Kegiatan Pendampingan Studi Mahasiswa Kota Semarang didukung oleh 8 Pendamping Mahasiswa, Admin dan admin keuangan, dan pemateri utama; Yang menarik dari kegiatan tersebut juga diikuti oleh mereka yang sudah lulus Strata 1, dan menunggu wisuda.  Fitalia Tumuka yang saat ini sudah lulus dan akan diwisuda pada Sabtu, 16 April 2026 mendatang, tercatat sebagai mahasiswa Fakultas Hukum dan Komunikasi Soegijapranata Chatolic University. Fitalia berencana untuk melanjutkan studi keprogram pascasarjana di negeri Belanda; Saat ini sedang menunggu rekomendasi dari dua dosen senior di kampusnya serta proses pendaftaran dan syarat untuk mendapatkan beasiswa S2.

Sedangkan Xena Hanna Yawan Beanal tercatat sebagai mahasiswa Politeknik Energi dan Mineral Akamigas Cepu jurusan Teknik Produksi Minyak dan Gas, akan menempuh ujian akhir pada bulan Mei 2026. Adapun judul tugas akhirnya “Analisis Injeksi Surfaktan Polimer Terhadap Peningkatan Oil Recovery Factor”

Xena berharap setelah menyelesaikan studi ia harus menghadapi tantangan baru dalam bentuk mendapatkan pekerjaan yang linier sesuai dengan bidang studi yang ditekuni; Meskipun ia menyadari bahwa dunia perminyakan lebih banyak digeluti oleh para laki-laki, karena perminyakan identik dengan maskulin. Sebagaimana metode yang diajarkan oleh Yayasan Binterbusih 8K (Komitmen, Karakter, Kompetensi Akademik, Keterampilan hidup-AC4, Kesehatan Jasmani, Kesehatan rohani, Kepemimpinan dan Keterampilan Teknis).

Selain itu juga Yayasan Binterbusih menetapkan alumninya dengan 4B (Berpengetahuan; Berketerampilan; Berkarakter dan Beriman). Dengan demikian meskipun harus bersaing ia juga mengandalkan Kuasa Tuhan, sebagai bentuk ketaatan akan kekudusan sebagaimana Daniel dan 3 temanya dalam bacaan injil. Hal serupa tentu akan dihadapi oleh teman-temannya yang lain. Ia berpesan dan menguatkan agar kita siap untuk menjadi Tuan di Papua.

Dihari kedua diawali dengan misa pagi yang dipimpin oleh Romo Klemens Budiarto dan materi pendampingan dipandu oleh para pendamping dan Pemateri Utama Bp. Paul Sudiyo dan Bp. Robert Manaku.

Bp. Paul Sudiyo pada materi penguatan berpesan dengan tegas “Anda harus bersiap diri dan menjadi Tuan di semua sektor dan kepemimpinan; di Pemerintahan Provinsi, Kabupaten, Distrik dan berbagai institusi baik negeri maupun swasta. Ingat jangan menyentuh obat-obat terlarang; Ganja dan lainnya, karena disinyalir kalian adalah sasaran, diawal kalian akan diberi gratis berikutnya kalian akan terjebak; Hari ini saya menangis, tetapi tangis saya adalah kekuatan untuk membuat kalian menjadi Tuan di Papua”.

Berikutnya adalah melihat hasil studi berupa perolehan IP Semester dan IP Kumulatif untuk mata kuliah yang telah ditempuh. Lembar form. Isian terhadap pemetaan studi wajib diisi oleh peserta dengan jumlah SKS yang harus ditempuh sampai lulus kisaran 116 – 120 SKS bagi Program Diploma III & 144 – 152 SKS bagi program strata 1; Untuk mereka yang mengalami pelambatan dalam masa studi dan pengambilan SKS persemester serta perolehan IPS & IPK, akan mendapatkan bimbingan dan uraian analisa masalah yang dihadapi serta bagaimana mahasiswa tersebut menerapkan 8K dalam kehidupan sehari-hari.

Kedepan bagi para mahasiswa yang kuliah di universitas kerjasama dengan Yayasan Binterbusih akan ditindaklanjuti komunikasi para koorwil dan Manajer Program dengan pihak kampus untuk diselenggarakan program tutorial mata kuliah tertentu dan pendampingan mahasiswa yang akan menyelesaikan Tugas Akhir dan Skripsinya.

Untuk meningkatkan semangat dan menguatkan logika spiritual pada mahasiswa menghadapi pelambatan akademik dan permasalahan perkuliahan, mereka diminta untuk membuat dan menandatangani “Lembar Komitmen” agar implementasi 8K Yayasan Binterbusih bisa direalisasikan dengan kesadaran penuh agar tidak terjerumus dalam lingkaran sikap yang akan mengarah pada pribadi yang berpotensi menjadi “Pengemisdi Papua” masa datang. ***jhe saksono 002

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bahasa