
Malang, (12/10/2026) Ema E Wuniyu S.Ag, (S1 Kateketik) saat ini bertugas sebagai Korwil. Kota Studi Malang, Alumnus STP-IPI Malang (Sekolah Tinggi Pastoral – Yayasan Institut Pastoral Indonesia Malang) sebuah perguruan tinggi swasta Katolik di Malang yang berfokus pada pendidikan katekis, guru agama, dan tenaga pelayanan pastoral.
Informasi yang dimiliki oleh Ema; Ia seorang profesional pendidikan dan pengembangan anak dengan pengalaman lebih dari 15 tahun yang didedikasikan untuk merancang dan menerapkan program pembelajaran yang holistik, inklusif, dan berpusat pada anak. Juga pelatihan guru, dan kemitraan dengan orang tua untuk menciptakan ekosistem pendidikan yang mendukung pertumbuhan kognitif, sosial, dan emosional anak.

Ia juga punya komitmen untuk menerapkan pendekatan terbaru dalam pendidikan, dengan fokus pada penanaman karakter, keterampilan hidup, dan kecintaan belajar. Siap berkontribusi dengan kepemimpinan yang visioner, empati, serta keahlian manajerial yang kuat untuk membawa dampak positif pada yayasan. Saat ini alamat di Papua ada di Nabire Papua tengah.
Pengalaman kerjanya pernah menjadi Guru Honorer di Nabire, selain mengajar Ia juga punya keterampilan menyanyi dan sebagai dirigen; Aktivitas dan tugas sehari-hari adalah : Membimbing pelajar & Mahasiswa dalam Pembinaan kegiatan rohani; pengembangan spiritualitas pengembangn Rohani serta memberikan pelatihan.
Diusia yang sangat muda pernah menjadi Pamong Pertama Asrama Amor Putri Yayasan Binterbusih kisaran tahun 2005; lebih lengkap perjalanan dan kisah kasihnya bersama anak asrama Amor Putri sebagai berikut..!
Inilah Kisahnya..!!
Perjalanku menjadi seorang pamong asrama putri 20 tahun lalu berawal dari kejutan kecil yang tidak pernah saya duga sebelumnya saat itu saya baru saja menyelesaikan masa study di kampus dan sedang bersiap melangkah selanjutnya ke dunia kerja. Saya tidak pernah menyangka bahwa langkah pertama karier saya akan digariskan melalui sebuah obrolan dua tokoh penting.

Ternyata Bapak Direktur Yayasan Binterbusih Bapak Paulus Sudiyo sedang mencari pamong asrama Putri yang tepat untuk membimbing para siswi asrama putri di Semarang, kebetulan Bapak Direktur juga merupakan alumnus terbaik dari kampus saya, nah karena hubungan pertemanan yang erat sebagai teman seangkatan yang sama-sama di kirim dari Jogjakarta yaitu Bapak Rektor saya Bapak Paulus Mudjidjo mereka berduapun berkomunikasi dengan sahabat lamanya untuk mencari kandidat terbaik melalui telepon selulernya alhasil Bapak Rektor saya mengatakan bahwa tahun ini ada beberapa mahasiswa dari Papua juga yang akan diwisuda oleh karenanya melalui informasi ini maka Bapak Direktur menghubungkan melalui Korwil. Malang waktu Itu Bapak Dolfinus Kamesrar, selanjutnya mengarahkan saya untuk mengikuti pembinaan akhir dan saya di undang untuk mengikuti wawancara secara langsung di Semarang tepatnya di Griya Retret Paseban.

Proses wawancara di Paseban berjalan dengan lancar dan diakhir sesi saya diterima kerja di Binterbusih, namun sebelum saya resmi mulai bekerja ada satu hal penting yang harus saya lakukan yaitu lapor dan meminta doa restu kepada orang tua di Merauke.
Sayapun meminta ijin untuk pulang ke orang tua di Merauke (Ayah saya Almarhum Herman Wuniyu Putra Kamoro yang lahir hidup besar bahkan sampai meninggal di Daerah selatan Papua yaitu Merauke) dan Ibu Saya Yuliana Kundop (wanita manis dari Boven Digoel) Papua Selatan. Selama seminggu di Merauke orang tua sudah mengetahui anaknya sudah selesaikan study dan restupun diberikan untuk lanjut bekerja di Tanah Jawa (Semarang).
Dengan mantap melangkah tugas sebagai pamong Asrama Putri Pelajar (matrikulasi tahun pertama) bukanlah pekerjaan kantoran yang biasa yang selesai saat jam pulang tiba. Ini adalah tugas pengabdian 24 jam untuk menjadi orang tua pengganti pelindung dan teladan bagi anak-anak wanita remaja yang tinggal jauh dari keluarga (rumah).

Hari pertama masuk ke Asrama Putri di Wanamukti saya di jemput oleh Kakak Jimy Apuriau dan di arahkan ke rumah Bapak Paul. Bapak sendiri memperkenalkan saya ke Bapak Koordinator Asrama Bapak Yulius Trimargono selanjutnya saya di antar ke asrama putri.
Ada rasa gugup bercampur dengan tekat yang kuat untuk siap melangkah bersama mereka; Perjalanan saya menjadi pamong asrama 20 tahun lalu bukanlah mencari pekerjaan melainkan tentang menjawab sebuah panggilan pengabdian.

Tugas sayapun resmi di mulai, dinamika kepamongan saya semakin kaya setelah 3 tahun di Wanamukti saya di pindahkan ke Asrama Putri Pegunungan Bintang beberapa bulan dan selanjutnya di pindahkan lagi ke Kinijaya di asrama putri matrikulasi LPMAK.
Setelah menuntaskan pengabdian yang penuh kenangan di Asrama Putri Wanamukti, Pegunungan Bintang, Kinijaya panggilan jiwa membawa saya kembali melangkah ke tanah Papua pada tahun 2009 saya bergabung dalam Program Kerja Kampanye Pendidikan yang di selenggarakan oleh LPMAK di 5 kampung yaitu: Koperapoka, Nawaripi, Muare, Kaugapu dan Hiripau selanjutnya saya bersama rekan saya Bp Anton Oagay menjadi garda terdepan pendidikan di tengah masyarakat 5 kampung tersebut.
Sungguh memberikan saya pelajaran hidup yang tidak ternilai tentang ketangguhan dan arti ketulusan. Satu tahun penuh pengabdian di Timika hingga memasuki pertengahan tahun 2010; Duh saat program kerja tersebut mendekati akhir babak baru kehidupan pribadi sayapun tiba sang pujaan hati datang melamar saya untuk membangun bahtera rumah tangga bersama, panggilan untuk menjadi seorang istri dan membangun keluarga membuat saya harus mengambil keputusan besar setelah menuntaskan tanggung jawab program, saya resmi mengundurkan diri sebagai petugas lapangan LPMAK – Binterbusih, langkah kaki saya kembali mengarah ke tempat di mana semuanya di mulai iya “Bumi Anim-Ha” di hadapan orang tua yang dulu melepaskan saya dengan Doa Restu. Akhirnya kamipun mengikat Janji Suci pernikahan di Gereja Paroki St Maria Vatima kelapa Lima Merauke Juli 2010.

Setelah sah menjadi pasangan Suami Istri, lembaran baru kehidupan membawa saya mengikuti langkah suami. Saya di bawa oleh suami tercinta (✝️Petrus Gobai) di kota dingin yang sarat cerita, kami merajut hari demi hari membangun fondasi rumah tangga dan membagi suka dan duka bersama.waktu berjalan begitu cepat 15 tahun lamanya kami mengarungi bahtera rumah tangga yang penuh sukacita dan damai, namun takdir Tuhan tidak ada yang tahu.
Setelah 15 tahun kebersamaan yang indah dan penuh Warna, kurang lebih 5 tahun merawat suami tercinta karena sakit stroke, badai terdahsyat dalam hidup saya datang, sang pujaan hati, belahan jiwa dan pilar kekuatan saya di panggil oleh Tuhan yang Mahakuasa, pada hari Sabtu (15 November 2025) kehilangan suami tercinta meninggalkan ruang kosong yang begitu besar di dalam hati.
Di tengah rasa duka yang mendalam saya tersadar bahwa hidup terus berjalan (anak perlu makan-minum & pendidikan) api pengapdian di dalam diri saya tidak boleh padam, dalam pencarian kekuatan untuk bangkit ingatan saya kembali ke 20 tahun silam saya teringat ke rumah yang mempertemukan kami bersama almarhum suami, rumah yang pertama kali membentuk karakter saya.tempat di mana saya belajar arti ketulusan merawat anak-anak remaja yang polos di Binterbusih.
Seperti seorang anak yang rindu pulang setelah melanglang buana dan melewati badai kehidupan saya memantapkan hati untuk melamar kembali ke Yayasan Binterbusih, langkah ini bukan lagi sekedar mencari pekerjaan untuk menyambung hidup melainkan sebuah cara bagi saya untuk menyembuhkan luka, bangkit, berdiri, mandiri dan mempersembahkan sisa hidup saya bagi masa depan anak-anak Papua.
20 tahun lalu saya datang ke Binterbusih sebagai seorang pemudi yang polos yang di bekali restu orangtua di Merauke. Hari ini saya mengetuk pintu lagi yang sama sebagai seorang wanita yang telah di tempa oleh asan-garam kehidupan. Medan berat Mimika, dinginya Enarotali dan kehilangan pujaan hati yang mendalam. Saya siap pulang, siap mengabdi kembali ke rumah yang telah membesarkan jiwa saya, demikian kisah ku …**Ema Wuniyu Gobai – *** @ jhe saksono 002
