Asrama Amor Putra Semarang, 18/5/2026; Akrab dipanggil Bunda Ocha atau Bunda Jeki bertugas dan bertanggungjawab terhadap keuangan dan kasir Asrama Amor Putra maupun Putri di Semarang; Christina Dyah Sri Rejeki, SE yang hari-harinya menyandang tas punggung warna hijau lumut penuh dengan nota, kwitansi, tagihan, proposal, rekap kehadiran guru tutor mengajar atau Tor kegiatan dan juga pastinya adalah uang dalam bentuk cash, meskipun dalam jumlah terbatas, semua berkas dan tagihan harus dipertanggungjawabkan kepada Timja Keuangan dan Bendahara Yayasan Binterbusih.

Urusan pembiayaan, SPP Sekolah dan pengumpulan bukti bayar adalah sebuah tanggungjawab besar yang harus dijalani, para pembutuh biaya baik itu pamong, pendamping mungkin juga siswa via pendamping bisa kontak ke Bunda Ocha setiap saat, mulai jam 05.00 pagi sampai pk. 22.30 WIB. Bunda Ocha menyadari kalau kebutuhan operasional asrama bisa dibutuhkan kapan saja; full 7 hari kerja per minggu. “Bayangkan apa tidak keren ya seperti bank berjalan !!”. ha ha haaa.
Hobinya mengolah vokal dan suara sudah terbentuk sejak usia muda bersama dengan anggota keluarga yang menelurkan sebuah grup “Verona Voice” lahir dari keluarga Bp. Muhammad Dahlan (katolik); Putra pertama Mas Eko sebagai player keyboard dan empat putri vocalis salah satunya adalah Bunda Jeki.
Ketika bergabung dengan Yayasan Binterbusih tahun 2008, bertugas sebagai guru tutor kesenian untuk anak-anak matrikulasi, disamping lagu-lagu yang diajarkan untuk keperluan mengisi ibadah, bina iman maupun acara maupun perayaan yang diselenggarakan oleh Asrama Amor, juga untuk keperluan tampil dikala ada tamu guna mengisi acara; Bunda Jeki juga bertugas untuk mencari dan mengembangkan bakat anak-anak ketika itu. Siapa tahu diantara mereka ada kemungkinan untuk diikutkan lomba menyanyi baik di sekolah maupun di luar sekolah.
Karena kemampuan dan keseriusannya mendampingi anak-anak Papua Bunda Jeki per Juni tahun 2009 diminta bergabung secara resmi sebagai Staf Yayasan Binterbusih dengan nomor pokok pegawai 020.2009.06, bertugas sebagai Pamong Asrama Putri di Sinar Waluyo. Sinar Waluyo adalah sebuah rumah kontrakan yang digunakan sebagai asrama bagi anak-anak putri dampingan Yayasan Binterbusih.
Ketika ia berkenalan dengan Kakak Ema; yang bertugas sebagai Pamong Asrama Putri di Perumahan Kini Jaya; yang mendampingi siswa kelas X & XI; “Kakak Ema mengajaknya untuk buat lagu mars dan hymne Yayasan Binterbusih”; Kakak Ema cerita kalau Bp. Pascalis menugaskan Kakak Ema, Kakak Dolfinus dan Bp. Yan untuk merancang dan menciptakan Mars Yayasan Binterbusih. Namun di tengah perjalanan proses penciptaan lagu tersebut Bp. Yan, beliau dari Bintuni Manokwari, kembali ke Papua., sehingga tim pencipta berkurang satu orang.
Pada saat itu Bunda Jeki mengambil inisiatif untuk merealisasikan kedua lagu yang diperlukan oleh Yayasan Binterbusih mars dan hymne, karena belum tercipta untuk kebutuhan penyemangat Staf , Siswa dan Mahasiswa Yayasan Binterbusih, sebagai pengejawantahan dalam irama dan lagu visi dan misi Yayasan Binterbusih.

Rupa-rupanya yang aktif dari tim hanya Bunda Jeki dengan inisiatif menelaah dengan insting dan makna Visi & Misi Yayasan Binterbusih, syair dan notasi disusun dengan bantuan Om Bambang Hermanu (guru vocal dan pelatih kulintang) untuk mengaransemen lagu tersebut.
Menyadari bahwa telaah liturgi inkulturatif pendampingan kaum muda Papua dan formasi iman yang membebaskan menjadi sarana proses penulisan syair ini, maka simbol-simbol budaya dan kesukuan lokal diberikan tempat pada ekspresi bait lagu tersebut; Sebagaimana tertulis “mendidik putra Papua, menjadi insan berguna”! Bunda Jeki menyadari bahwa Allah telah lebih dahulu hadir dalam sejarah dan kebudayaan Papua “di bawah naungan Tuhan Yang Maha Kuasa Binterbusih berkarya!!”
Pada saat yang sama lagu tersebut mengharapkan perubahan sosial secara kritis dan terintegrasi bagi Papua secara utuh “bersatu membangun Papua, menuju hidup damai sejahtera!!” Kata Bumi Cendrawasih mewakili niatan tersebut.

Bunda Jeki mengkomunikasikan terus dengan Bp. Paul Sudiyo saat itu beliau sebagai Ketua Yayasan Bintrbusih untuk mendapatkan persetujuan; Namun beliau lebih setuju untuk lagu Mars dahulu, lagu hymne sebaiknya antar waktu dulu, selain kurang sesuai dengan genre atau ritme lagu yang kurang pas dengan keidentikan Papua, karena Hymne memang cenderung melambat temponya seperti Hymne guru atau lagu Hymne pada umumnya. Kemudian atas persetujuan Bp. Paul Sudiyo, Bunda Jeki merekam lagu mars dengan musik; Seiring berjalannya waktu revisi dan uji coba lagu terus dilakukan hingga pada tahun 2011 Lagu Mars Yayasan Binterbusih Launching dan disahkan sebagai lagu Mars Yayasan Binterbusih sebagaimana yang kita nyanyian setiap hari Senin usai ibadah pagi dan pada acara-acara penting yang diselenggarakan oleh Yayasan Binterbusih.
Sekilas namun mendalam perkenalan kita dengan Christina Dyah Sri Rejeki, SE Staf Yayasan Binterbusih Pencipta Lagu Mars Yayasan Binterbusih, wanita, katolik kelahiran kota Semarang, 3 Mei 1975 dipinang oleh Seorang Arsitek Lulusan Soegijapranata Chatolic University (SCU) Aloysius Kristadi dan dikaruniai putri-putra Theresia Oktavania K dan Nathanael Baby Evano; Tinggal di Perum Durenan Asri blok E.42 Kecamatan Tembalang Kota Semarang. ***@jhe saksono002
