Semarang, 20/10/2026, “Mengubah Potensi menjadi Profesi” merupakan bagian bahasan dan penekanan peningkatan akademik yang dialami oleh mahasiswa di kota studi Jawa, Bali & Medan dampingan Yayasan Binterbusih setiap semester selalu dikaji melalui Program Pendampingan Studi (PS) Bagi Mahasiswa. Program tersebut merupakan tindakan evaluasi terhadap capaian yang terjadi pada mahasiswa.
Takut dan kesadaran diri internal merupakan langkah yang harus dipilih, oleh mahasiswa; Kadang mahasiswa tidak tahu “istilah pending”. Pending merupakan sikap lembaga yang didasari oleh laporan administratif yang dibuat dan dilaporkan oleh para korwil terhadap mahasiswa atas aktivitas dan taat studi yang didasarkan pada capaian Indek Prestasi Semestar.

Bagi mahasiswa yang mengalami pending itu berarti tidak mendapatkan kiriman atau transfer biaya hidup selama 6 bulan. Mereka yang menerima pending dan tidak menerima beasiswa biaya hidup disebabkan oleh perolehan IPS selama dua semester dibawah dua koma lima; Namun demikian proses keputusan pending yang diterima mahasiswa setelah mereka mengabaikan beberapa teguran, nasehat sampai dengan pemberian “Surat Peringatan (SP) I, dan II”.
Yayasan Binterbusih menyelenggarakan pertemuan dan mengkaji perilaku akademik ini merupakan kelanjutan dari pertemuan konsolidasi Koordinator Wilayah (Korwil) Kota Studi sebagai upaya memperkuat peran pendampingan, pembinaan pada 14-15 Oktober 2026 yang lalu. Di tempat yang sama di Griya Paseban 18-A, Semarang, 20-21 Oktober 2026, diikuti 16 orang Korwil dan Timja Pembinaan Mitra YPMAK & YPKB kelanjutan mengkaji lebih dalam dan berbagi strategi pendampingan antar korwil.

Mikael Nawaripi selaku korwil kota Bandung, menyampaikan proses keputusan pending yang ditetapkan melalui koordinasi yang cukup panjang antara korwil dan manajer program serta timja mahasiswa; Namun demikian pendekatan pribadi yang dilakukannya sangatlah berhati-hati agar mahasiswa kota studi Bandung yang ia dampingi tidak shock mendengar informasi pending. Oleh sebab itu ia menekankan pada proses membangun kesadaran pribadi untuk memahamkan mereka, karena itu bagian dari ketentuan yang ditetapkan oleh Yayasan Binterbusih.
Sementara itu Wahyu Hadi korwil kota Yogyakarta melaporkan dari 125 mahasiswa yang didampinginya 7 mahasiswa dipending, selama 1 semestar proses pendekatan dan pendampingan hanya 1 mahasiswa yang berubah capaian nilai akademiknya mendekati 3,0; Penelusuran yang dikaji dari sejumlah mahasiswa tersebut, memang ada tarik ulur antara korwil dan orang tua. Hal ini disebabkan kiriman uang dari keluarga ditambah dengan beasiswa yang diterima jumlahnya cukup besar, sehingga tujuan awal untuk kuliah menjadi menjauh dan pemanfaatan kiriman uang dari keluarga menyebabkan “bangku kuliah secara perlahan-lahan ditinggalkan”!!.

Lain cerita dengan apa yang dilakukan oleh Paulus Magal korwil kota Malang, yang dengan tegas mengingatka diawal semester bahwa kalau semeser berjalan ini perolehan indek prestasi semester tidak mencapai di atas 2,5 maka mahasiswa dampingannya akan menerima keputusan pending selama 6 bulan biaya hidup tidak diberikan. Oleh sebab itu sikap keras yang dilakukan untuk membuat mahasiswa ketakutan tidak menerima biaya hidup memicu mahasiswa untuk berhati-hati untuk urusan kuliah, sehingga beberapa mahasiswa yang semester lalu IPS-nya dua meningkat menjadi 3,0 bahkan ada yang lebih.’
Sipriyana korwil perempuan kota Yogyakarta menceritakan bahwa mahasiswa dampingannya yang ia ketahui dan akrab memiliki latar belakang keluarga yang memprihatinkan, si mahasiswa tersebut kuliah mengambil program studi Informatika, tetapi tidak memiliki laptop dua semester berjalan ia mengerjakan tugas dan kuliah bermodalkan handphone saja tetapi perolehan indek prestasinya mencapai 2 koma lima bahkan lebih, semangatnya untuk menempuh pendidikan tinggi sangatlah besar ketika ia menerima pemberian laptop dari lembaga, ia sangat berterima kasih bahkan saking gembira dan senangnya sampai menangis.

Berbagi pengalaman pada pengkajian perilaku mahasiswa ketika didampingi dan ditemani untuk meyakinkan bahwa pendidikan tinggi dan memperoleh gelar kesarjanaan adalah penting demi masa depan memersiapkan diri menjadi bagian penting untuk kemajuan Papua. Dimasing-masing kota studi memiliki kekhasan sendiri-sendiri. Selain itu juga karakter asal bagi mahasiswa Papua juga dipengaruhi oleh, dari mana mereka berasal, apakah dari pantai ataupun dari gunung, juga kondisi dan latar belakang keluarga.
Karakter awal tersebut berpengaruh pada pendekatan pribadi yang mesti dilakukan oleh para korwil. Bp. Paul selaku pemandu pada kajian tersebut menegaskan bahwa proses pendampingan dan mengarahkan pada mahasiswa yang penting adalah “Bukan aku/korwil yang mau tetapi bagaimana kita memahamkan kesadaran pribadi itu menjadi “Mereka Mau Berubah Menjadi Lebih Baik” Bersumber pada pamahaman 8K yang kita ajarkan.!! Tegasnya.
Hari kedua kajian yang dipaparkan oleh para korwil semakin tajam, ditampil daftar nama-nama yang berpotensi kuat akan mendapatkan pekerjaan dalam waktu dekat bagi mereka semester akhir dan tunggu wisuda; hal ini diyakini oleh korwil Bandung karena potensi akademik dan non akademik memenuhi persyaratan di Papua.
Namun demikian perlu diperhatikan bahwa kecenderungan FOMO (Fear of Missing Out) dan Overthinking: Dorongan untuk terus mengikuti tren, aktif berorganisasi berlebihan, atau membandingkan pencapaian dengan orang lain sering membuat mahasiswa kehilangan fokus akademik. Selain itu Impostor Syndrome atau perasaan tidak layak atas prestasi yang diraih dan kecemasan berlebihan terhadap kegagalan sering dialami terutama oleh mahasiswa baru.
Bagi mereka yang sudah menempuh semester akhir ada juga kecenderungan Kecemasan Masa Depan dan Quarter Life Crisis: Kebingungan serta tekanan dalam menatap masa dewasa dan dunia kerja memicu angka stres, bahkan mengalihkan perhatian dengan menunda-nunda skripsi untuk mempertahankan status. Ketika mahasiswa dampingan Yayasan Binterbusih mengalami gejala tersebut peran korwil sangat dibutuhkan. Memotivasi mahasiswa tidak hanya mentargetkan IP saja Korwil Kota Bandung bahkan menyarankan bahwa “kampus sebagai tempat untuk menggali pengalaman dan implementasi empirik persiapan dunia kerja”.
Ema Pendamping korwil kota Malang menyampaikan kesannya terhadap kajian ini; “Sangat luar biasa {Binterbusih terus memperbaharui dan mendorong kami para korwil agar dalam pendampingan tidak melenceng} karena anak-anak kita memiliki kemampuan dan potensi yang luar biasa tugas kita para korwil untuk mendorong serta menggali semua potensi yang di miliki oleh anak-anak, sehingga kendala-kendala yang di hadapi dapat diatasi bersama, lebih jauh dari itu kami berkeyakinan bahwa ini adalah proyek Tuhan yang luar biasa yang di percayakan untuk pelayanan anak-anak demi masa depan Papua”!.
Proses pengkajian perilaku dan motivasi mahasiswa yang dilakukan oleh Yayasan Binterbusih tidak hanya IPK saja, itu tidak menarik!, tetapi basisnya adalah membangun kesadaran pribadi pada dunia kerja nyata; Hal itu bisa dilakukan semasa mereka masih duduk di perguruan tinggi, sehingga korwil mendampingi mahasiswa bertolak dari kampus untuk mendekatkan diri pada dunia kerja; Dengan demikian implementasi 8K, utamanya “komitmen” bisa mendarah daging dan proses belajar dan kuliah serta mengerjakan tugas tidak perlu disuruh-suruh.
Robert Manaku selaku manajer program diakhir sesi menyampaikan bahwa Forum korwil kali ini juga menegaskan bahwa “Masa kuliah menjadi waktu untuk bereksperimen, menggali minat, dan memahami apa yang benar-benar diinginkan dalam hidup”; Meskipun kita sadari bahwa ada mahasiswa yang sering menyibukan diri di organisasi Ikatan Pelajar & Mahasiswa Papua maupun organisasi politik dan melupakan studinya yang bertahun-tahun tidak lulus. Mestinya jangan tanggung-tanggung untuk terlibat diorganisasi, tetapi kuliahnya mesti beres!!. Oleh sebab itu ketika keinginan membangun profesi berbasis prestasi, maka penemuan jati diri untuk pengabdian dan jenis pekerjaan mudah ditemukan, dengan demikian peran korwil membuat identitas mahasiswa dampingan tidak rapuh dan mudah goyah!! *** @ jhe saksono 002.
