Semarang, 24/09/2026; Antisipasi hubungan tidak sehat (toxic relationship) di kalangan remaja putra-putri Asrama Amor Yayasan Binterbusih merupakan tantangan psikologis dan sosial yang krusial. Sebagai wadah pendampingan holistik bagi pelajar asal Papua di perantauan, interaksi antar-penghuni asrama sangat memengaruhi kesehatan mental dan keberhasilan akademis mereka.

Jauh dari keluarga inti membuat ketergantungan emosional antar-teman dan pamong pendamping; Juga ketergantungan dengan guru kelas yang setiap malam mendampingi belajar malam sesuai dengan mata pelajaran yang diampunya di lingkungan asrama menjadi sangat tinggi, sehingga rentan terjebak dalam dinamika yang tidak sehat.

Para ahli psikologi menyatakan, hubungan Toxic yang Sering Terjadi di Lingkungan Asrama meliputi; Posesif dan Pengekangan Berlebih: Melarang siswa atau teman dekat untuk bergaul dengan lingkaran asrama yang lain, yang memicu isolasi sosial. Manipulasi Emosional (Guilt Tripping): Membuat salah satu pihak selalu merasa bersalah atas masalah kelompok memanfaatkan rasa senasib di perantauan. Kekerasan Verbal dan Perundungan (Bullying): Menggunakan kritik kasar, ejekan berkedok candaan, atau tekanan sosial antar-senior dan junior atau bahkan secara tidak sengaja bisa dilakukan oleh para pamong pendamping yang bisa merusak rasa percaya diri siswa.

 Selain itu Kecemburuan Sosial atau Akademis memicu rasa tidak senang atau persaingan tidak sehat ketika melihat teman seasrama mencapai prestasi yang lebih baik. Hal ini bisa berdampak bagi siswa asrama dalam hal : 

  1. Kemunduran Akademis: Konsentrasi belajar pada program wajib, seperti jam belajar malam, menjadi terganggu akibat stres emosional yang konstan.
  2. Krisis Identitas dan Homesickness Mendalam: Tekanan dari hubungan toxic memperparah rasa kesepian akibat jauh dari kampung halaman, meningkatkan risiko depresi atau keinginan berhenti sekolah.
  3. Keretakan Solidaritas Asrama: Konflik personal antara individu yang toxic dapat memecah keharmonisan kelompok, merusak kenyamanan komunal yang seharusnya menjadi sistem pendukung (support system) utama.

Manager Program Robert Manaku, disela-sela rapat akademik Senin, 21 September 2026 di Ruang Rapat Bawah Asrama Amor Putra di Jalan Pilangsari no.1 Semarang menyatakan bahwa Timja Pelajar telah menyusun 53 program kerja dengan runut selama 1 tahun berjalan. Implementasi program perlu dibarengi dengan pendampingan siswa oleh Pamong dan Pendamping secara berkelanjutan. Tugas utama pamong dan pendamping adalah “mendengarkan siswa untuk menyampaikan keluhan ataupun masalah pribadinya”. Hal ini penting karena siswa yang berasal dari Papua tentu berbeda dengan siswa yang berasal dari Jawa maupun provinsi lain.

Ketika siswa telah banyak bercerita dengan segala persoalan pribadinya maka Pamong telah memiliki informasi lengkap terhadap siswa tersebut; tindakan administratif merupakan kemudahan untuk melakukan rencana tindak lanjut berdasarkan data diri dan kartu konseling. Dengan demikian ketika terjadi permasalahan yang menghambat prestasi pada studi dan sosial siswa, maka mudah untuk membuka data siswa yang ada di catatan Pamong.

Solusi dan Langkah Pencegahan oleh Timja Pelajar Yayasan Binterbusih, Untuk memitigasi hal ini, pihak Yayasan Binterbusih dan para pamong/pendamping asrama menerapkan langkah-langkah terstruktur, selain yang telah diprogramkan oleh Yayasan.

Langkah Nyata Tim Kerja Pelajar Yayasan Binterbusih dalam rangka mengimplementasikan program kerja tahun 2026 berlandaskan pada moto “Profesional-Happine-Quality” untuk memberikan totalitas pelayanan bagi siswa Asrama Amor Yayasan Binterbusih dengan harapan menjadikan siswa mampu mengenali dirinya sendiri melalui metode 8K. (Metode 8K : Komitmen, Karakter, Kompetensi Akademik, Keterampilan Hidup, Kesehatan Jasmani, Kesehatan rohani, Kepemimpinan dan Keterampilan Teknis).

Menggandeng Biro Psikologi Melana Perumahan Graha Taman Bougenville Kav. 93,Mangunharjo, Tembalang, Semarang yang dipimpin oleh Dra.M. Yang Roswita, MSi, Psikolog, Timja Pelajar berupaya menggunakan jasa para ahli untuk  mengimplementasi program Timja Pelajar Tahun 2026 pada point 1; Pengembangan Kepercayaan Siswa Kepada Pamong & Pendamping serta Point 3; Pengembangan Karakter Siswa, merupakan peningkatan pemahaman 8K melalui konseling.

Untuk mencapai tujuan dan peningkatan pemahaman diri diperlukan serangkaian pendampingan psikologis yang dirancang untuk memahamkan siswa; Adapun kegiatan yang dilaksanakan dalam program untuk membantu mengenali dan memahami pergaulan dan perpacaran yang sehat , tidak ada kekerasan dalam relasi pergaulan dan perpacaran.

PEER GROUP COUNSELING REMAJA ASRAMA PUTRI BINTERBUSIH SEMARANG

  1. Building Trust, Membangun rasa percaya antar anggota kelompok dan memetakanpandangannya tentang perpacaran
  1. Memahami personal boundaries , memahami batasan secara fisik dan emosional
  2. Memahami Healthy & Toxic Relationship
  3. Membentuk perilaku asertif dan komitmen perubahan perilaku

Peran serta Psikolog dan teman sebaya sangat menentukan keberhasilan peer grup konseling yang dilakukan,sehingga perlu screening dalam pembuatan kelompok peer grup konseling tersebut.

Melalui rangkaian kegiatan tersebut diharapkan remaja akan lebih memahami pergaulan dan perpacaran yang sehat, jauh dari kekerasan dalam perpacaran maupun menentukan karirnya dimasa depan.

Para ahli yang mendampingi program tersebut sebagai berikut :

  1. Dra.M. Yang Roswita,MSi, Psikolog (penanggung jawab)
  2. C. Roselvia T.A., M.Psi., Psikolog
  3. Shabrina A. Ismawan, M.Psi., Psikolog
  4. Pingky Savitri, M.Psi., Psikolog
  5. Endang Muslihatun Chasanah, M.Psi., Psikolog
  6. Rafaella Guwenda Paras Jati, S.Psi., Psikolog
  7. Anggita Refo Antika, SPsi,Psikolog

Sembari untuk menegaskan sikap dan perilaku siswa Timja Pelajar juga menggelar kegiatan “Kegiatan Pengembangan Minat-Bakat Remaja” kegiatan ini bertujuan untuk pemilihan jurusan pendidikan dan perencanaan karier. Keputusan penting yang akan memengaruhi masa depan individu, , diperlukan pemahaman yang baik mengenai potensi diri, minat, bakat, kemampuan, serta karakteristik kepribadian yang dimiliki. Namun, pada kenyataannya masih banyak remaja yang mengalami kebingungan dalam menentukan pilihan jurusan maupun arah pengembangan diri karena belum memahami dirinya secara menyeluruh.

Kegiatan asesmen psikologis yang meliputi tes minat dan bakat, edukasi mengenai pentingnya mengenali minat dan bakat, serta asesmen psikologis singkat untuk memahami karakteristik kepribadian dan memperoleh gambaran kondisi emosional peserta. Hasil asesmen ini memberikan informasi yang penting mengenai kecenderungan minat, kemampuan, gaya kepribadian, serta kondisi psikologis yang dapat menjadi dasar dalam perencanaan pendidikan dan pengembangan diri.  Pada kegiatan pengembangan minat dan bakat remaja – siswa untuk tahun ini ditekankan pada siswa kelas XII.

Sementara itu Elsa siswi Asrama Amor Putri sempat berpacaran dengan kaka kelas, inisial Yn yang tinggal di Asrama Amor Putra menyampaikan manfaat yang ia rasakan bahwa Peer Group Counseling Remaja dapat mengatasi toxic relationship yang ia bangun; Masa pacaran 3 bulan telah memberikan pengalaman indah ketika membangun relasi dengan lawan jenis. Ia bisa menjalin kebersamaan dan menikmati “cilok dan kudapan lain” yang dijual dipinggir jalan bersama pacarnya.

Mengahiri hubungan dengan pacarnya, Elsa merasa panggilannya untuk hidup membiara lebih kuat, sehingga mereka berpisah dengan baik-baik!.

Pamong pendamping asrama putri Bunda Chris, menyatakan bahwa kita perlu memberikan kesempatan kepada siswa untuk menjalin relasi dengan lawan jenis, tahun program 2026 ini ada beberapa siswi yang menjalin asmara namun dari pengamatannya mereka masih dalam batas normal dan tidak mengganggu aktivitas asrama yang telah terjadual. Untuk Asrama Amor Putri yang dihuni 35 siswi dan 49 siswa yang tinggal di Asrama Amor Putra memang saling kenal dan sering ada kegiatan yang bersamaan.

Bagi Bunda Chris mengimplementasikan Pendampingan Holistik & Konseling itu sangat diperlukan agar siswa kelak ketika menginjak ke pendidikan tinggi sudah siap. Selain itu perlu disadari bahwa moto “Profesional-Happine-Quality” tidak hanya berlaku bagi siswa saja tetapi juga harus dirasakan oleh para Pamong dan keluarga besar Yayasan Binterbusih. !! imbuhnya.  *** @ jhe saksono 002

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bahasa