Semarang, (Sabtu, 7 Maret 2026), dalam rangka mengembangkan potensi Sumber Daya Manusia dan mempersiapkan pemimpin masa depan Papua, khususnya Teruna asal Kabupaten Pegunungan Bintang Provinsi Papua Pegunungan, ditempuh melalui program Beasiswa Intensif. Program beasiswa ini merupakan bagian dari komitmen Bupati Spei Yan Bidana, ST. M.Si dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM), khususnya di sektor pendidikan dan kesehatan.
Sebanyak 60 mahasiswa mengikuti kegiatan tersebut, dengan penuh semangat untuk mewujudkan harapan dari Pemerintah Daerah Kabupaten Pegunungan Bintang diasuh oleh Pemateri dan pendamping dari Tim Pembinaan Yayasan Binterbusih. Inti dari kegiatan “Orientasi dan Adaptasi Mahasiswa ; Tema “Dipanggil Untuk Menjadi Berekat” bagi Peserta Program Beasiswa Pemda Kabupaten Pegunungan Bintang Bekerjasama dengan Yayasan Binterbusih, Griya Paseban, Jalan Dokter Ismangil No.18A, Bongsari, Kec. Semarang Barat, Kota Semarang, 50148 berlangsung 6 s/d 8 Maret 2026; Adalah mengurai kendala akademik yang menjadi penyebab utama dalam dalam diri masing-masing mahasiswa.
Bapak Paul Sudiyo dalam proses pendampingan tersebut menunjukan bahwa kemampuan terbatas dapat dilihat melalui metode 8K (Komitmen, Karakter, Kompetensi Akademik, Ketetampilan Hidup – AC4, Kesehatan Jasmani, Kesehatan rohani, Kepemimpinan dan Keterampilan Teknis).
Melalui refleksi diri, para mahasiswa peserta kegiatan Orientasi dan Adaptasi Mahasiswa diminta untuk menuliskan : Faktor-faktor ketidakberhasilan mereka masing-masing yang ditunjukan dengan perolehan Indek Prestasi Semester dan Indek Kumulatif yang rendah. Hal ini menjadi keprihatian bersama, antara mahasiswa itu sendiri, orang tua, Pemerintah Daerah maupun Universitas.
Untuk itu mahasiswa peserta pendampingan memperhatikan penjelasan dari Bapak Paul, bahwa ada faktor di luar dirinya, berupa fase-fase pendidikan semasa SD, SMP & SMA ketika di Papua yang belum memenuhi standart melanjutkan studi di Pulau Jawa, yang menyebabkan kemampuan penyerapan materi dan aktivitas perkuliahan di perguruan tinggi terhambat. Hal ini juga ditopang oleh pendampingan yang kurang intensif baik yang dilakukan oleh Koordinator Pendamping Kota Studi maupun dari Pendamping dari Kampus; karena mendampingi mahasiswa yang berasal dari Papua, musti dilihat secara utuh belum bisa dilepas begitu saja ketika mereka merasa belum siap.
Melalui metode 8K, mahasiswa diajak untuk melihat setiap persoalan dari dalam dirinya dan harus berani dan meyakinan bisa diselesaikan melalui metode tersebut. “Kebiasaan belajar yang tidak serius misalnya; Penyebab utamaya adalah lemahnya pada K-1 yaitu “Komitmen” demikian juga dengan lemahnya komitmen akan berpengaruh pada K-2 yaitu pembentukan “Karakter” dengan demikian juga dengan hal K yang lain, terjadi pelemahan.
Keterkaitan pada metode 8K akan mempengaruhi sikap hidup selanjutnya. Ketika mahasiswa baru menyadari pada tahun-tahun berjalan maka akan berpengaruh pada perolehan IPK dan IPS setiap semesternya. Hal tersebut sudah menghambat waktu studi, biaya kuliah dan kesempatan untuk berkompetisi di dunia kerja.
Menyadari hal tersebut proses penguatan dan mengurai persoalan akademik di kampus menjadi titik simpul yang akan memberikan arah dan tujuan yang jelas bagi peserta Orientasi dan Adaptasi Mahasiswa kali ini.
Sejumlah mahasiswa tersebut merupakan mahasiswa Universitas Kristen Satya Wacana Salatiga yang mengalami perlambatan dalam menempuh perkuliahan; Rata-rata mereka adalah mahasiswa angkatan tahun 2021, yang seharusnya sudah menyelesaikan studinya. Ibu Idha Hastanti selaku Administrator Akademik dan Pembiayaan menyampaikan bahwa “Ada kemungkinan mereka yang telah lewat masa studi akan ditranfer ke perguruan lain sesuai dengan Program Studi dan Jurusannya dari perguruan tinggi asal, dengan maksud untuk segera menyelesaikan studinya dalam waktu yang tidak terlalu lama; jelasnya!.

Sementara itu Bp. Paul Sudiyo menegaskan bahwa “Kita musti gercep, dan memulai dari awal untuk proses pendampigan tersebut, karena menolong orang yang jatuh itu harus segera ditatih dan ditopang untuk segera berdiri, meskipun ada juga mereka yang masih jatuh juga”, “Syukur-syukur mereka bisa berjalan dan berlari untuk mengejar mimpi”.
Yayasan Binterbusih telah berpengalaman 38 tahun lebih dalam menangani dan mendampingi siswa dan mahasiswa asal dari Papua, kajian dan proses penguatan tidak hanya berhenti pada saat mereka masih menjadi siswa dan mahasiswa, (S1, S2 & S3) tetapi sampai mereka menentukan arah hidup dan berproses mencari pekerjaan dan mempersiapkan para alumninya untuk masuk diwilayah sosial dan politik.
Komunikasi dan pendataan dilakukan agar para Alumni Dampingan Yayasan Binterbusih bisa berkontribusi pada daerah asal baik kabupaten maupun provinsi, bahkan ada yang berkesempatan menduduki jabatan sebagai Menteri, Gubernur dan beberapa formasi penting ditingkat nasional.
Para mahasiswa ini selama tiga hari mendapatkan materi berupa pendampingan motivasi hidup sebagai mahasiswa, refleksi, melihat potensi akademik, peluang untuk berprestasi, bimbingan rohani melalui misa serta permainan bersama dan diskusi kelompok.
Pada sesi terakhir hari ketiga, hasil diskusi kelompok dipaparkan oleh masing-masing kelompok; Hasil diskusi memberikan harapan atas penguatan dari masing-masing mahasiswa yang dituangkan dalam paparan tersebut; Salmon Okbirok mahasiswa Teknologi Informasi – program studi Sistem Informatika dari kelompok 5 menyampaikan bahwa; Kedepan kami akan saling bekerjasama dan mengingatkan tujuan datang dan studi di Jawa, untuk menempuh pendidikan tinggi dan mencapai gelar sarjana. ***jhe saksono 002

Kami, mewakili senior mahasiswa wilayah Pegunungan Bintang, mengucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya atas dukungan dan perhatian Pemerintah Daerah melalui program beasiswa ini. Bantuan dan pendampingan yang diberikan telah memberikan kesempatan bagi kami untuk mengembangkan potensi diri, meningkatkan kemampuan akademik, serta mempersiapkan diri menjadi generasi yang berkompeten dan berdaya saing.
Dukungan ini tidak hanya meringankan beban mahasiswa, tetapi juga menjadi motivasi untuk terus berusaha dan berprestasi. Kami sangat menghargai komitmen Pemda dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia di bidang pendidikan dan kesehatan, khususnya bagi mahasiswa asal Pegunungan Bintang yang sedang menempuh pendidikan tinggi di luar daerah.
Kami juga menyampaikan apresiasi kepada Yayasan Binterbusih atas pendampingan, bimbingan, dan perhatian yang konsisten selama program ini berlangsung. Semoga sinergi antara Pemerintah Daerah dan Yayasan Binterbusih terus terjalin, memberikan manfaat yang berkelanjutan, serta mampu membentuk generasi muda Pegunungan Bintang yang cerdas, berkarakter, dan siap berkontribusi bagi daerah dan bangsa. Terima kasih
Terima kasih Sdr. Andir Maku, semoga kami Yayasan Binterbusih dapat memenuhi harapan siswa dan mahasiswa dampingan serta mewujudkan visi dan misi kami.
Salam hangat penuh kasih.