Semarang, (14-15/1/2026); Pembekalan bagi karyawan baru Yayasan Binterbusih berlangsung selama dua hari di Griya Paseban Jl. Dr Ismangil 18A, Bongsari, Semarang 50148. Karyawan muda sebanyak 20 orang dari berbagai kota studi kumpul untuk menelaah materi dan pelatihan dasar mendampingi siswa dan mahasiswa yang tersebar studi di Jawa & Bali.

Hari pertama pembekalan dibuka dengan ibadah pagi, bacaan kitab suci Injil sengaja dipilih untuk menjadi dasar langkah-langkah pembekalan agar kedepan setiap kali karyawan mendampingi siswa dan mahasiswa bertumpu pada rujukan bacaan kitab suci harian sesuai dengan Kalender Liturgi yang berlaku.

Sesi perkenalan merupakan sesi keakraban mereka diminta untuk saling mengenal dan menceritakan pengalaman hidup dan pengalaman kerja sebelumnya. Hal ini sangat penting karena dalam proses pendampingan siswa dan mahasiswa akan memerlukan “Kolaborasi Kerja”. Proses pendampingan siswa dan mahasiswa permasalahan yang dihadapi disetiap kota studi hampir sama hanya beda situasi.

Mengenal jejak langkah Yayasan Binterbusih sejak tahun 1988, prihatin atas persoalan yang tumbuh berkembang dengan sejarah perjalanan Orang Asli Papua dari penggunaan alat-alat pertanian dari batu, dan berubah mereka mengenal alat dari besi. Selain itu pendidikan dan keterampilan pada Orang Asli Papua tersisih,  bahkan didaerah pedalaman belum tersentuh.

Pada tahun 1990 Kota Tembagapura menjadi kota termodern di Asia, namun demikian nasib Orang Asli Papua belum terpikirkan; Kaum terpelajar masih sedikit dan sekolah tidak merata. Hal itu dipicu dengan adanya sikap & budaya yang masih berpandangan bahwa pendidikan belum begitu perlu. Mereka mempunyai daya juang, disiplin, masih lemah, kekurangan guru, prasarana sekolah, jarak tempuh, pelajaran yang terlalu sedikit melengkapi permasalahan yang dihadapi anak-anak Papua.

Selain itu belum ada dukungan dari orang tua untuk anak-anak bersekolah, mereka kadang diminta untuk mebantu di ladang dan mencari ikan di laut. Dengan berkembangnya kota Tembagapura yang pesat dan modern maka Orang Asli Papua kala itu hanya menjadi penonton.

Pada tahun 1997 PT. Freeport Indonesia bekerjasama dengan Yayasan Binterbusih, sampai hari ini. Program yang digagas dan diimplementasikan lambat laun bisa mengkikis stigma negatif baik pada Orang Asli Papua sendiri maupun komunitas di luar Orang Asli Papua. Banyak yang lulus sarjana anak Papua yang didampingi oleh Yayasan Binterbusih.

Usai makan malam, peserta disuguhi sebuah film motivasi berjudul “Freedom Writers, dari film tersebut peserta diminta untuk merefleksikan perjuangan guru yang mengubah murid SMA yang bengal, melalui tulisan pribadi mereka.

Hari kedua setelah peserta diberikan materi pendampingan bertumpu pada metode 8K (komitmen, karakter, kompetensi akademik, keterampilan hidup, keterampilan jasmani, keterampilan rohani, kepemimpinan dan keterampilan teknis).  Dengan metode 8K diharapkan para karyawan muda baru tersebut, dapat melakukan pendekatan dan bimbingan untuk melakukan “konseling, menyembuhkan sakit atas ketertinggalan dan luka batin.

Berdasarkan data valid siswa dan mahasiswa yang diperoleh peserta diminta untuk mempraktekan kunjungan dan dampingan. Form data pribadi siswa sebagai alat bantu administratif. Proses pendampingan dan bimbingan untuk mencari solusi dan tindak lanjut atas temuan masalah.

Dolfinus SJ Kamesrar sebagai fasilitator menyampaikan pesan “Ikuti saja pola yang ada, kesan keterbukaan dan komunikasi akan terbentuk setelah proses kunjungan kesekian kali”  Sementara itu Marcelino Eric Oagay – Koorwil Kota Studi Yogyakarta menyampaikan kesannya, melalui pembekalan ini, Ia bisa memaknai pelayanan dampingan pada mahasiswa; Terlebih pada proses perolehan nilai & IPK, Ia merasa cukup berat terlebih mahasiswa yang didampingi berasal dari Pemda Pucak, tidak mudah karena daerah mereka berasal merupakan daerah konflik, Jelasnya. ***(jhe saksono-02)

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bahasa