Semarang, (16/1/2026); Bekerjasama dengan Lembaga Psikologi Terapan Soegijapranata Chatolic University (SCU) Yayasan Binterbusih programkan Implementasi Konseling Positif bagi siswa dan mahasiswa dampingannya.
Pembelajaran bagi karyawan Yayasan Binterbusih berlangsung selama dua hari di Griya Paseban Jl. Dr Ismangil 18A, Bongsari, Semarang 50148. sebanyak 13 orang karyawan baru terlibat pada kegiatan kedua ini; Sedangkan kelompok satu telah menjalani pelatihan konseling yang sama pada tanggal 14 Januari 2026 dan melibatkan 21 Orang karyawan lama; Karyawan yang menjalani pelatihan tersebut sehari-hari, mereka bertugas sebagai Pamong Pendamping & Koordinator Wilayah Kota Studi se Jawa & Bali.

Pelatihan konseling kali ini, selain mendapatkan materi berupa teori juga diimplementasikan melalui praktek di Asrama Amor Putra & Putri untuk menguji kajian teori yang telah diperoleh. Patrick Yesandro P., S.Psi., M.Psi., Psikolog, Lidwina Florentiana Sindoro, M.Psi., Psikolog dosen Fakultas Psikologi SCU sebagai fasilitator. Untuk mendekatkan pada realita yang dihadapi oleh para karyawan tersebut hadir juga Faradiba Anugerah Kaay,S.Psi.,Psikolog; Asli Orang Papua dari suku Dani.
Implementasi Konseling Positif merupakan sarana untuk menjadikan para pamong dan koorwil bisa menjadi “Sahabat Seperjalanan” bagi siswa dan mahasiswa. Untuk menerapkan perlu pendekatan yang berfokus pada kekuatan, potensi, dan kesejahteraan psikologis konseli, dan bukan semata-mata pada masalah.
Disampaikan oleh fasilitator bahwa gambaran implementasinya secara praktis bertujuan untuk membantu konseli mengenali kekuatan diri (strengths), meningkatkan optimisme, resiliensi, dan makna hidup dan yang lebih penting mendorong perkembangan pribadi dan kesejahteraan mental dan konseli mampu menemukan solusi berbasis potensi yang dimiliki.
Adapun prinsip Utama dalam prosen menjadi sahabat seperjalanan : Fokus pada apa yang sudah baik, bukan hanya apa yang salah, Konseli dipandang sebagai individu yang mampu berkembang, Hubungan konselor–konseli bersifat kolaboratif, Menumbuhkan emosi positif (harapan, syukur, percaya diri).
Sedangkan langkah-langkah implementasi, Membangun hubungan positif
konselor menciptakan suasana aman, empatik, dan penuh penerimaan, Identifikasi kekuatan konseli, Menggali bakat, nilai, pengalaman sukses, dan kelebihan konseli. Merumuskan tujuan positif diarahkan pada pengembangan diri, bukan hanya menghilangkan masalah.
Diharapkan pada pelatihan ini dapat meningkatkan siswa dan pendamping berbasis kekuatan; Meningkatkan kepercayaan diri, mengurangi stres serta kecemasan, membentuk sikap optimis dan mandiri dan membantu konseli menghadapi tantangan secara sehat.
Sementara itu Faradiba Anugerah Kaay,S.Psi.,Psikolog, Perempuan asal Provinsi Papua Pegunungan, lulusan Universitas Katolik Soegijapranata Semarang, yang memiliki latar belakang akademik serta pemahaman kontekstual mengenai dinamika psikologis masyarakat Papua. Sebagai pemateri mengingatkan peran Pendamping diharapkan mampu menjembatani perspektif keilmuan dengan realitas lapangan yang dihadapi para pendamping sehari-hari.
Bertajuk “Pendampingan Aman-Budaya bagi Orang Asli Papua” ia menekankan bahwa kegiatan pendampingan bagi para pendamping diharapkan mampu untuk “Memahami Manusia Papua secara utuh.”, Tujuannya adalah untuk memperkuat kapasitas pendamping dalam memahami konteks psikososial Orang Asli Papua (OAP) melalui empatik, dan berbasis budaya.
Dalam pemaparannya, peserta diajak memahami pentingnya pendekatan aman-budaya (culturally safe approach) dalam pendampingan. Orang Asli Papua dipahami melalui perspektif emic, yaitu cara pandang yang berangkat dari makna hidup dan nilai-nilai yang hidup dalam komunitas itu sendiri. Relasi antara Tuhan, alam, dan manusia dipaparkan sebagai satu kesatuan yang tidak terpisahkan dan menjadi fondasi identitas serta kesejahteraan psikologis OAP.
Kegiatan ini juga mengulas realitas sosial yang kerap membentuk luka batin kolektif, seperti ketimpangan akses pendidikan dan layanan kesehatan, stigma dan diskriminasi, serta pengalaman konflik yang berkepanjangan. Luka-luka tersebut tidak selalu terungkap secara verbal, melainkan sering termanifestasi melalui respons emosi, perilaku, dan kesulitan dalam proses belajar maupun relasi sosial.

Para pendamping dibekali pemahaman mengenai dampak psikologis yang dapat muncul pada aspek kognitif, emosional, sosial, dan perilaku anak binaan. Perilaku yang tampak diposisikan sebagai bentuk komunikasi psikologis, sehingga memerlukan pemaknaan yang empatik, bukan penilaian yang terburu-buru.
Sebagai penutup, ditekankan bahwa peran pendamping bukan sebagai “penyelamat”, melainkan sebagai penguat. Pendamping diharapkan mampu menciptakan ruang aman, membangun kepercayaan, serta memberdayakan anak dan individu binaan dengan menghargai kekuatan, potensi, dan latar belakang budaya mereka. Melalui pendampingan yang berbasis empati dan pemahaman budaya, Yayasan Binterbushi berkomitmen untuk terus mendukung proses tumbuh kembang dan pemulihan psikososial Orang Asli Papua secara berkelanjutan.
Kegiatan pelatihan konseling ditutup dengan pemberian buku karya Bapak Paul Sudiyo berjudul “Kisah Kasih di Tanah Papua”; serta foto bersama. Sementara itu Patrick Yesandro P., S.Psi., M.Psi., Psikolog, selaku pemateri mengingatkan bahwa log book sebagai buku catatan harian yang merekam kronologis yang berisi detail aktivitas, dan data penting yang terjadi secara teratur pada proses pendampingan dan kunjungan akan ditinjau ulang pada 6 bulan mendatang.
Sehingga implementasi positif proses pendampingan dan kunjungan bagi siswa & mahasiswa dampingan Yayasan Binterbusih bisa dievaluasi dan dilihat tren perkembanganya. Semoga! *** (jhe saksono02)
