Semarang, 6 September 2026. Keberhasilan Panitia Penyelenggara Temu Alumni ke 5 Binaan Yayasan Binterbusih di Timika yang berlangsung pada tanggal 4-5 September 2026 merupakan sebuah momentum yang dahyat.

Ketua Panitia Neno Tabuni, S.Sos yang menggawangi kegiatan tersebut merinci kegiataan dengan baik yang diawali dengan bedah buku seri kedua yang ditulis oleh Bp. Paul Sudiyo berjudul “PETUALANGAN DI TENGAH KOTA UNTUK PAPUA” Kisah nyata yang ditulis pada buku tersebut merupakan pengalaman batin sehari-hari, mengisahkan perjalanan pendampingan Pelajar dan Mahasiswa selama 38 tahun.

Pada buku pertama merupakan perjalanan spiritual dengan “Memberi diri bagi perkembangan masyarakat Papua sejak tahun 1975 dari Katedral Jayapura sampai tahun 1988 di pedalaman Papua bersama para Misionaris.

Wilayah layanan pada buku kedua ada di Jawa dan merupakan ajakan untuk semua orang berani memberi diri bagi perkembangan Papua; Sebuah konsep berpikir dan bertindak dalam kurun waktu yang Panjang kedepan. Secara keseluruhan pada buku tersebut dapat dipetik, bagaimana Bp. Paul Sudiyo melangkah bersama dan berdampingan dengan Anak Muda Papua selama 50 tahun. Pembuktian tersebut telah menghasilkan Alumni Binaan Yayasan Binterbusih yang telah tersebar dan menduduki posisi penting di pemerintahan, swasta maupun pada institusi yang menjadi mitra pemerintah se-Papua Raya.

Ramuan Yayasan Binterbusih yang ampun adalah memberikan cinta yang tulus dan penuh dengan kesabaran serta pendampingan yang tepat serta bertumpu pada 8K, hal ini mampu melampaui segala keterbatasan.

Sementara itu Bupati Mimika Johannes Rettob sebagai tuan rumah mengajak alumni Yayasan Binterbusih untuk bertransformasi menjadi mitra strategis pemerintah dan gerakan kolaborasi nyata dalam membangun tanah Papua.

Hal tersebut disampaikan Bupati Johannes Rettob saat membuka acara Temu Alumni ke-5 Binaan Yayasan Binterbusih se-Papua Raya yang dipusatkan di Gedung Eme Neme Yauware, Kabupaten Mimika, Provinsi Papua Tengah, pada Jumat, 4 September 2026, hadir rekan sejawat   Melkianus Mote (Bupati Deiyai),  Yubelina Enumbi (Pj Sekda Puncak Jaya), Leonardus Tumuka (Ketua YPMAK),  Anggota DPR se-Papua Raya, jajaran direksi PT Freeport Indonesia, serta perwakilan dari lembaga adat Lemasko dan Lemasa; dari pantauan yayasanbinterbusih.id beberapa point penting yang beliau sampaikan adalah himbauan implementatif dalam bentuk kerjasama dan mitra berupa :

  • Kolaborasi Pembangunan: Pemerintah daerah tidak bisa bekerja sendiri dan membutuhkan keterlibatan seluruh pemangku kepentingan, termasuk para alumni Binterbusih, untuk memajukan daerah.
  • Mitra dan Orang Tua Asuh: Para alumni didorong untuk mengambil peran aktif sebagai mitra pemerintah serta menjadi orang tua asuh guna mendampingi dan membentuk karakter generasi muda Papua.
  • Penguatan SDM: Pertemuan ini dinilai sebagai momentum penting untuk memperkuat kualitas sumber daya manusia (SDM) serta merajut persaudaraan sejati di tengah kekayaan alam Papua.
  • Pembentukan Organisasi Alumni: Bupati mendukung langkah para alumni yang tersebar di enam provinsi untuk membentuk wadah organisasi resmi dari tingkat pusat, provinsi, hingga kabupaten.

Sementara itu ketua Yayasan Binterbusih Pascalis Abner, SE dalam penggalan wawancara dengan media menyampaikan “Memasuki usia setengah abad, Binterbusih memastikan fokus utamanya tetap pada pembinaan dan pendampingan generasi muda Papua.

Binterbusih tidak memiliki sekolah sendiri. Namun, yayasan menjalankan program pembinaan dan pendampingan bagi pelajar dan mahasiswa Papua sebagai bagian dari proses kaderisasi sumber daya manusia Papua.

“Yayasan Binterbusih sesuai visinya tetap ada di ranah pembinaan dan pendampingan bagi generasi muda Papua yang studi di Pulau Jawa dan sekitarnya,” Pembinaan tidak hanya diarahkan pada kemampuan akademik, tetapi juga pembentukan karakter. Para mahasiswa dipersiapkan agar memiliki bekal intelektual dan kepribadian ketika kembali serta mengambil peran di daerah.

“Penyiapan kaderisasi untuk Papua di masa depan, menyiapkan para mahasiswa untuk memiliki intelektual yang baik dan karakteristik yang memang betul-betul dibutuhkan di daerah untuk menjawab kebutuhan-kebutuhan yang ada,” katanya.

Menurutnya, tantangan generasi muda Papua ke depan semakin berat. Karena itu, Binterbusih perlu terus berbenah, melakukan inovasi dan memperkuat kemitraan dengan pemerintah daerah.

Keputusan Stretegia yang menjadi Komitmen Temu Alumni ke-5  pada 5 September 2026 di Timika

Menyepakati pembentukan wadah organisasi alumni formal dengan struktur kepengurusan terpadu mulai dari tingkat Pusat, Provinsi, hingga Kabupaten. Wadah ini bertujuan menghimpun seluruh kekuatan alumni demi pembangunan Papua.

Mengadakan musyawarah untuk memilih Ketua Umum organisasi alumni guna memimpin program kerja dan konsolidasi kader secara berkelanjutan.

Menetapkan komitmen seluruh alumni untuk bertindak sebagai mitra strategis pemerintah daerah di masing-masing wilayah guna mendorong transparansi, inovasi, dan kemajuan masyarakat.

Meluncurkan gerakan internal di mana alumni senior berperan sebagai mentor dan orang tua asuh bagi mahasiswa/pelajar Papua yang saat ini sedang dibina oleh yayasan.

Menjadikan momentum bedah buku pembina yayasan, Paul Sudiyo, sebagai cetak biru (blueprint) nilai-nilai dasar pendampingan anak-anak Papua dari wilayah pesisir hingga pegunungan.

Pada kesempatan yang sama disela-sela temu alumni Panitia dan peserta melakukan kunjungan ke Sekolah Asrama Taruna Papua sekolah tingkat SD dan SMP berpola asrama yang terletak di Kabupaten Mimika, Provinsi Papua Tengah. Informasi keberadaan SATP merupakan Milik Yayasan Pemberdayaan Masyarakat Amungme dan Kamoro (YPMAK) sebagai pengelola dana kemitraan PT Freeport Indonesia; Berlokasi di Distrik Wania, Mimika Baru, Kabupaten Mimika, Papua Tengah. Sekolah tersebut menyediakan fasilitas asrama gratis, biaya sekolah gratis, laboratorium, studio, lab bahasa, serta kurikulum berbasis teknologi. Sekolah ini juga meluncurkan program berstandar internasional seperti Pearson Edexcel.  Asrama tersebut menampung putra-putri dari tujuh suku di Papua (terutama Amungme, Kamoro, dan lima suku kekerabatan lainnya).

Dihari kedua acara inti merupakan Perayaan Syukur 50 th Pelayanan Bp Paul di Tanah Papua yang dipimpin Uskup Keuskupan Timika; Hadir pada perayaan misa tersebut Bp. Theo Van De Broek sahabat Bp. Paul yang sejak tahun 2005 ia menjabat Direktur Sekretariat Keadilan dan Perdamaian (SKP) Keuskupan Jayapura. Ia sempat menjabat sebagai direktur sebuah NGO di Dili, Timor Leste sebelum kembali ke Papua tahun 2009 dan menjalani masa pensiun. Sampai saat ini keduanya masih saling bertukar kabar untuk perkembangan Papua.

Tradisi sakral bakar batu secara resmi menjadi puncak sekaligus penutup dari seluruh rangkaian kegiatan Temu Alumni Binaan Yayasan Binterbusih Ke-5 Se-Papua Raya.

Acara yang berlangsung pada hari Sabtu, 5 September 2026 di Timika ini diselenggarakan sebagai simbol ikatan persaudaraan yang murni, ungkapan rasa syukur, dan momen rekonsiliasi kasih antar-alumni yang kini telah tersebar di seluruh pelosok Tanah Papua. Tradisi adat ini sekaligus menegaskan komitmen bersama para alumni untuk kembali bersatu dalam berkontribusi nyata membangun masa depan Papua yang lebih adil dan sejahtera.

Rudolf Budi Setyanto yang akrab dipanggil Pak Antok sebagai penanggung jawab urusan transportasi asrama Amor yang hadir pada acara Temu Alumni Ke 5 Binaan Yayasan Binterbusih, merasa senang dan bangga karena dapat melihat pertumbuhan dan kesuksesan para alumnus; Sejak tahun 1999, proses pendampingan dan layanan transportasi bagi siswa dan mahasiswa. Angkatan pertama ada 6 mahasiswa, mereka Adalah Manuel John Magal; Jhony Stingal Beanal; Markus Dibitau;  Yerry Magal;  Octavianus Omabak, dan  Karel Kum. Sementara siswa SMA St Michael Semarang, Inna Moyau; Helarius; Wiro; Hengky Amisim (Almarhum); Frans Maubak serta Bonifasius.  Diantara mereka saat ini telah menjadi  menjadi pejabat penting di Timika. ***@ jhe saksono 002.

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bahasa