Semarang, (23/1/2026) Aroma masakan dan bakaran tulang kuskus, burung merpati, ulat kayu dan keladi kuning dari bakar batu tersebut terbawa angin hingga menyentuh hidung Raja Mepum Sadimop. Aroma yang menggugah selera tersebut tidak membuatnya lapar, tetapi justru membuatnya marah!.  Ia dan pasukannya mencari dan menyerang sumber aroma; “Saya tidak senang dengan pemuda yang baru datang itu”! Tidak tahu diri datang berburu dan bakar batu seenaknya, di wilayah saya”!

Segera ia memerintahkan pasukannya “Dumrekam, sekelompok makhuk yang mirip dengan singa, namun memiliki kemampuan tempur yang luar biasa. Mereka hidup di gua-gua yang tersembunyi atau dibalik pohon besar yang dipenuhi lumut lebat. Menjadikan mereka bagian dari penghuni yang tak terpisahkan dari hutan belantara di Papua Pegunungan.

Pada zaman dahulu kala, seorang tokoh adat bernama Amedum Batim Talalang Deal yang hidup sendiri di Dusun Lopkop, Kampung Sabin. Ia adalah anak yang dibesarkan dengan didikan dan pendidikan adat oleh Orang tuanya. Mereka mengajarkan kearifan lokal untuk menjadi pribadi cerdas dan bijaksana.

Anak muda yang sering dipanggil Amedum memiliki berbagai kemampuan dan keterampilan berburu merpati, memetik buah pandan, mencari ulat kayu, berburu kuskus pohon, berkebun, memotong babi, serta pandai bergaul dengan masyarakat sekitar dan mudah mengambil hati mereka.

Meskipun ia masih muda tetapi menjadi panutaan di Dusun Lopkop karena kecerdasannya dan kemampuanya diberbagai bidang; Hasil didikan keluarga itu ia warisi dan diterapkan dikehidupan sehari-hari; Namun kesedihan tak bisa ia tolak, ketika Ayahnya meninggal dunia; sebelum wafat beliau  telah membekalinya dengan, Ilmu pengetahuan tentang ekonomi, sosial dan budaya.

Sehingga ia tumbuh dewasa menjadi sosok yang hebat dan dihormati; Keberanianya ia buktikan dengan melawan dan membunuh Raja Hutan Mepum Sadimop dan dagingnya  menjadi santapan bersama masyarakat setempat dimana ia tinggal dalam acara adat bakar batu.

Kisah heroik dan unik khas Papua Pegunungan Bintang khususnya suku Katengban ini merupakan karya Andir Meku , S.Pd., M.Pd. Mahasiswa Program Doktoral (S3), Universitas Negeri Semarang Program Studi Sastra Indonesia.

Buku cerita dongeng Mepum Sadimop merupakan Potret Pengetahuan, Pandangan, Nilai-nilai dalam kehidupan sehari-hari di Distrik Okbab, Suku Katengban, Kabupaten Pegunungan Bintang Provinsi Papua Pegunungan.

Buku yang ditulis dalam dua bahasa, yaitu Bahasa daerah suku Katengban dan Bahasa Indonesia; Untuk penulisan dalam bahasa suku Katengban Andir melibatkan seorang pendongeng sekaligus penutur daerah bernama Soleman Malo, Pria 40 tahun dan pekerjaan sehari-hari sebagai Aparat Kampung. Soleman merupakan nara sumber dan penutur asli; sehingga keaslian cerita menjadi unik dan menarik untuk dibaca, terlebih ketika kita membaca bisa terbawa pada halusinasi peristiwa dan suasana alam di Papua Pegunungan Bintang kala itu.

Sumber cerita di dalam buku dan tata Bahasa Indonesia divalidasi oleh Prof. Dr. Harjito, M.Hum. dan Dr. Nazla Maharani Umaya M.Hum; Pejabat Stuktural dan Pengajar di Universitas PGRI Semarang. Selain itu Andir juga melibatkan nara sumber daerah Mika Kasipka, pria 54 tahun pekerjaan sebagai Mantri yang tinggal di Kampung Omlyom Distrik Okbab dan Isak Kalka, Amd. AK pekerjaan sebagai Mantri Kampung.

BUKU

DONGENG MEPUNG SADIMOP

Ditulis oleh

Andir Meku, S.Pd., M.Pd. (Saat ini terdaftar sebagai mahasiswa Program Doktoral / S3 UNNES)

Prof. Dr. Harjito, M.Hum.,

Dr. Nazla Maharani Umaya. H.Hum.

Penyunting

Setia Naka Andrian

Desain Sampul dan Tata Letak

Sangkar Arah Grafis

Cetakan Pertama Mei 2025

Ukuran 13 x 20 cm, viii + 72 halaman

ISBN : 978-623-5392-10-3

Penerbit

Sangkar Arah Pustaka

Jl. Kyai Langen Dukuh Wedari  RT.01 / RW.05 Desa Tanjungmojo, Kec. Kangkung

Kabupaten Kendal Jawa Tengah.

 

By admin

3 thoughts on ““Mepum Sadimop” Raja Hutan Berwujud Manusia Singa; Memiliki Ekor & Berbulu Domba; Tewas di Ujung Panah Batime Amedum”
    1. Sama-sama Bang Andir, semisal ada yang akan membeli atau memiliki dapat menghubungi anda yaaa trims,
      kami tunggu buku selanjutnya yaaa Tuhan Memberkati.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bahasa