Semarang, (Senin,  12 Januari 2026), Kehadiran Romo Dr. Singgih Guritno, Pr, sebagai fasilitator rekoleksi karyawan Yayasan Binterbusih yang diselenggarakan di Graha Diklat PMI Provinsi Jawa Tengah jalan Arumsari Kelurahan Sambiroto Kecamatan Tembalang Kota Semarang. Romo Singgih sehari-hari menjabat sebagai Direktur sekolah-sekolah Theresiana dan sebagai Pastur Paroki Katedral Randusari Semarang.

Sebanyak 98 karyawan yang tergabung dalam staf administrative dan operasional hadir untuk menyimak paparan Romo Singgih; Kali ini tema rekoleksi “Fasilitator Keselamatan yang terus Mengembangkan Pelayanan Profesional dan Menggembirakan untuk terus berbuat baik” menjadi topik yang dikupas dan dibahas bertumpu pada potensi diri yang matang.

Pada sesi pertama yang berlangsung sekitar 2 jam; Romo Singgih membuka mata hati peserta melalui Ensiklik DEUS CARITA EST Seri Dokumen Gerejawi No. 83 Ensiklik Paus Benediktus XVI Roma, 25 Desember 2005; Ensiklik merupakan Surat Gembala Pastoral yang diterbitkan oleh Paus. Deus Caritas Est yang artinya “Allah adalah kasih”; Menitik beratkan pada keselamatan merupakan kasih yang mendarat dikehidupan sehari-hari dalam memaknai sebagai insan Yayasan Binterbusih.

Romo Singgih memperlihatkan bahwa sejarah 38 tahun Yayasan Binterbusih berkarya telah menghasilkan eros yang nyata yang dapat dirasa, meskipun awalnya memulai dari hal-hal yang kecil. Dalam perjalanan tersebut tentu ada gesekan antara Pamong, Staf dan Anak dampingan.

Untuk itu memaknai ”Allah adalah kasih, dan barang siapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia” (1 Yoh 4: 16). Dalam kata-kata ini dari surat pertama Yohanes dinyatakan dengan amat jelas pusat iman kristiani, gambar Allah kristiani dan juga gambar manusia yang timbul daripadanya serta jalannya. Selain itu dalam ayat yang sama Yohanes juga memberikan rumus hidup kristiani: “Kita telah mengenal dan telah percaya akan kasih Allah kepada kita” (bdk.4: 16).

Ketika kita melayani dampingan Yayasan Binterbusih yang sering terjadi adalah tidak sebagaimana yang dirasakan. Padahal menjadi fasilitator keselamatan itu konkrit lahir dari peristiwa; dan pembebasan dari rasa iri.

“Eros” dan “Agape” – Perbedaan dan kesatuan

Romo Singgih mendasari kasih Allah yang tulus itu diperlukan tetapi tidak selalu ada di awang-awang (mengambang di langit). Hal itu ditegaskan sebagai ungkapan yang belum menyentuh dasar perasaan fisik manusia. Beliau mengungkapkan contoh ketika suami istri “Sang Suami menyatakan kepada istrinya “Mah aku sangat sayang padamu”  Tetapi tidak pernah memberi uang belanja : Itu adalah Agape; Demikian juga dengan kasih antara pria dan perempuan, yang tak berasal dari pemikiran dan kemauan, melainkan menimpa manusia, oleh orang Yunani diberi nama Eros. Oleh sebab itu ketika sang suami memberikan uang belanja itu Eros, sentuhan yang terjadi sangat diperlukan ketika kita masih “manusia !”.

Peminggiran Eros dan paham baru kasih yang terungkap dalam kata Agape, tentulah menunjukkan sesuatu yang hakiki dari kita selama mengemban sebagai pelayan keselamatan bagi anak muda Papua.

Usai turun minum rekoleksi sesi kedua dimulai : Apa yang disampaikan oleh Romo Singgih tidaklah cukup sampai disitu, karena masih ada hal yang paling penting yaitu bagaimana kita mengenal diri kita masing-masing; agar kita tahu diri, tahu porsi dan tahu posisi. Hal ini sangat diperlukan supaya kita tidak mengeluh dan strees ketika bergabung dalam Yayasan Binterbusih.

Melalui potensi kepribadian yang kita miliki, maka diperlukan sebuah situasi dimana kita menemupan potensi pada proses rekoleksi = re kembali dan koleksi mengumpulkan; melalui kasih menjahit pecahan-pecahan kasih karena perbedaan yang terjadi diantara kita, karena kekayaan itu adalah “Budaya Perbedaan” yang memungkinkan bisa menjadi perpecahan.

Potensi diri – Kekuatan & Kelemahan

MBTI (Myers–Briggs Type Indicator) membantu memetakan preferensi cara kita mendapatkan energi (E–I), memproses informasi (S–N), mengambil keputusan (T–F), dan mengatur hidup (J–P).Meskipun peserta rekoleksi diajak untuk melihat potensi dan kelemahan dirinya tetapi ini bukan label permanen, melainkan cermin untuk memahami kebiasaan berpikir dan bertindak.

Tujuannya sederhana: mengenal diri agar lebih tepat memilih cara belajar, bekerja, dan berinteraksi. Pada Tes yang dilakukan oleh Romo Singgih bertujuan edukasi dan refleksi pribadi, bukan instrumen psikometri resmi. MBTI® adalah merek terdaftar milik The Myers-Briggs Company. Hasil tes ini bersifat indikatif dan tidak menggantikan konsultasi profesional.

Sebagai penutup Romo Singgih menyampaikan bahwa, setelah bapak dan ibu mengetahui potensi dirinya dan tidak ditempatkan pada unit kerja yang sesuai maka resep yang dianjurkan adalah “Peluk dan Atasi Masalah Itu!; Karena jalur yang telah dipilih memerlukan perjuangan yang sejati. Terima kasih; Tuhan Beserta Kita. *** (jhe saksono-01)

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Bahasa